Tampilkan postingan dengan label RUMPUN SENI KALANGENAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUMPUN SENI KALANGENAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Mei 2019

GAMELAN SARI ONENG MATARAM, HADIAH ADU KEMIRI

GAMELAN SARI ONENG PARAKAN MATARAM

Ditulis oleh:
Nandi apriansah
NIM: 18123011

Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan.


Gambar 1 (gamelan sari Oneng Mataram)

Gamelan sari oneng mataram merupakan salahsatu gamelan kuno koleksi museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.  Gamelan ini merupakan pemberiandari mataram yang diterima pada tahun 1691 oleh Pangeran Panembahan (Rangga Gempol III) sebagai hadiah atas kemenangan Senapati Sumedang terhadap Senapati Mataram pada permainan adu kemiri.
Gamelan Sari Oneng Mataram berlaras pelog dan terbuat dari perunggu.  Hingga saat ini, Gamelan Sari Oneng mataram masih terlihat bagus dan belum ada kerusakan yang berarti.  Bilah-bilah dan penclon-penclonnya masih terawat dengan baik, begitupun dengan ancak-ancaknya, tidak terlihat adanya kerusakan yang berarti.  Ancaknya terbuat dari kayu jati.
Gamelan Sari Oneng Mataram merupakan seperangkat ensambel yang terdiri dari: Bonang, Rincik, Saron, Panerus, Peking, Sulikat, Katipul, Ketuk, Selentem, Gambang, Rebab, Kendang,dan Goong.  Di antara perangkat tersebut terdapat tempat menyimpan Rebab yang mempunyai Candra Sangkala “Bradanggadi Radia Kagurnitaning Wong” yang artinya Gamelan Agung kepunyaan Raja yang terkenal.
Gamelan Sari Oneng Mataram saat ini dipakai sebagai pengiring latihan tari di Padepokan Seni Dangiang Kutamaya setiap hari Minggu. Selain itu, gamelan ini secara rutin ditabuh setiap hari Kamis minggu pertamaan ketiga sebagai upaya penggalian kembali lagu-lagu (gending) buhun peninggalan leluhur Sumedang.  Gamelan ini masih cukup terawat.  Perawatan khusus masih dilakukan, yaitu setiap bulan Mulud.  Pada bulan ini gamelan ini dicuci bersama-sama dengan benda-benda pusaka lainnya dalam acara tradisi Pajang Jimat sekaligus memperingati Maulud Nabi Muhammad saw. Sepuluh hari menjelang acara tersebut gamelan ini tidak ditabuh.
Gamelan Sari Oneng Mataram dari dulu hingga sekarang adalah sebagai sarana hiburan para bupati.  Hiburan yang dimaksud disini bisa sebagai hiburan untuk kalangan mereka sendiri ataupun untuk tamu-tamu khusus yang datang ke lingkungan mereka.  Tamu-tamu khusus pada zaman dahulu misalnya utusan dari kerajaan atau kebupatian lain.  
Gambar 2 (koleksi museum Sumedang)

Pada masa bupati-bupati sebelum masa kemerdekaan, Gamelan Sari Oneng Mataram dipergunakan sebagai pengiring tari para menak Sumedang dalam acara Tayuban.  Acara tayuban ini pada era tahun delapan puluhan hingga pertengahan sembilan puluhan dilaksanakan setiap bulan di Museum Prabu Geusan Ulun, sekarang gamelan ini sudah jarang dipergunakan sebagai pengiring Tayuban karena memang sudah sangat jarang Tayuban dipergelarkan.
Repertoar lagu  terdapat dalam Gamelan Sari Oneng Mataram ada sebagai berikut:
Repertoar atau gending yang biasa disajikan dalam suatu latihan menabuh Gamelan Sari Oneng Mataram tercatat  sejumlah 14 lagu.  Diantaranya:
  1. Jipang Karataon
  2. Toropongan
  3. Barong naek Gegot
  4. Sonteng
  5. Sumiar naek sanga Gancang
  6. Amengan naek Singar
  7. Pancawarna naek Gersikan
  8. Paksi Tuwung naek Macan Ucul
  9. Cirebonan naek Singar
  10. Sura-sari naek Jonggrang
  11. Wani-wani nae Langensari
  12. Samarangan naek Samarangan gancang
  13. Karanginan naek Karanginan Gancang\
  14. Candi Rangrang naek Samarangan
  15. Jiro Keraton.
Dari kelima belas lagu tersebut, sekitar 6 buah lagu merupakan lagu kesukaan bupati Sumedang jaman dulu dan merupakan lagu pengiring tari mereka.  Lagu-lagu tersebut adalah:
  • Sura-sarinaek Jonggrang (sorog) yang merupakan lagu pengiring tari Pangeran Soeria Kusumah Adinata, 1836-1882.
  • Sonteng (sorog), yang merupakan lagu kesukaan dan pengiring tari Pangeran Mekah (Aria Soeria Atmadja) 1883-1919.
  • Samarangan naek Samarangan Gancang (sorog) yang merupakan lagu pengiring tari R.A.A Danoeningrat, bupati pensiunan Sukabumi II tahun 933-1950.
  • Karanginan naek Karanginan Gancang yang merupakan lagu pengiring R.A.A Kusumadilaga, 1919-1937.
  • Wani-wani (pelog) yang merupakan lagu pengiring tari R.A.A Soeria Natabrata bupati pensiunan sukabumi I tahun 1921-1932.
  • Barong naek Gegot (pelog) yng merupakan lagu pengiring tari Rd. Kanuruan Soeria Gunawan, onder kolektor pensiun Sumedang.
Dari keempat belas lagu tersebut, yang menjadi lagu awal adalah lagu jipang karaton dan yang menjadi lagu penutup adalah jiro keraton.

Sumber:
Wawancara dengan bu vety, pengurus museum geusan ulun sumedang

Skripsi berjudul gamelan buhun sari oneng mataram di museum prabu geusan ulun sumedang (sebuah tinjauan awal) yang disusun oleh atit widiati tahun 2001.

Sumber foto:
Website museum prabu geusan Ulun Sumedang.
Koleksi foto museum prabu geusan Ulun Sumedang.

TOLEAT, KALANGENAN MASYARAKAT SUBANG

SENI TOLEAT


Ditulis oleh:
Giant maeztoso
NIM: 18123021

Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan


Gambar 1 (pertunjukkan toleat)



Apa sih toleat itu ?
Toleat ialah alat musik kalangenan yang berasal dari kabupaten Subang, Jawa Barat. Pada mulanya toleat muncul dari inspirasi anak gembala yang bermain dipesawahan, ketika musim panen tiba kebanyakan dari anak gembala bermain empet – empetan di sawah dan empet – empetan merupakan asal mula dari alat musik Toleat ini. Menurut hasil wawancara yang telah penulis lakukan daerah yang merupakan cikal bakal alat musik toleat ialah di daerah pantura  persisnya di desa Sukamandi Kec. Ciasem Kab. Subang. Toleat telah mengalami banyak perubahan bentuk, yang tadinya dengan menggunakan bahan Jerami padi lalu berubah ke daun kelapa hingga ke daun pepaya dan yang terakhir mengunakan Congo Awi atau Ujung Bambu. Ujung bambu yang di bentuk menyerupai kepala belut dan yang sekaligus menjadi sumber bunyi, nada yang di hasilkannya dari lidah yang menempel ke Hulu Belut yang dibuat dari pohon maja. Asal mula nama toleat di ambil dari bunyin yang di hasilkan alat musik tersebut yaitu “Torotot Ole – olean” karena sering terdengarnya seperti itu maka munculah nama Toleat.
Toleat mempunyai beberapa fungsi dalam pertunjukannya, yang pertama sebagai Kalangenan atau menghibur diri sendiri lalu setelah diterima oleh masyarakat Toleat menjadi pintonan atau Hiburan dan yang ketiga sebagai alat kreasi yang sering dipakai dalam musik – musik kontemporer. Warna suara yang dikeluarkan oleh alat musik ini menyerupai clarinate pada alat musik modern dan setelah melakukan banyak perubahan menyerupai juga alat musik Saxophone. Nada mutlak alat musik toleat ini ialah Pentatonis atau lebih spesifiknya Salendro, Degung, madenda. namun setelah mengalami banyak perubahan yang menyesuaikan pada perkembangan jaman nada yang dihasilkan serta lubang yang terdapat pada alat musik ini bertambah sehingga mampu memainkan nada -  nada Diatonis pada musik barat juga tergantung pada tiupan pada alat musik tersebut.
Toleat mulai di sosialisaikan kemasyarakat itu sekitar tahun 80an oleh seorang maestro toleat pada masa itu ialah Pak Suparman atau lebih dikenal dengan panggilan mang Parman. Ketika itu mang Parman mencoba menggantikan alat musik Tarompet di Kesenian Sisingaan Dengan alat musik Toleat tersebut. Pada saat itu keberadaan mang Parman di ketahui oleh staff kebudayaan yang ada di daerah Pamanukan masih dilingkup Kabupaten Subang. Setelah itu mang Parman Di undang pada rapat minggon kebudayaan dan mempersentasikan serta memainkan alat musik tersebut dihadapan para pejabat kecamatan sampai di bawa ke Kabupaten. Kemudian para pejabat itu menyukai Toleat ini serta memberi mang Parman sebuah penghargaan yang di berikan langsung oleh Bupati pada saat itu. Lalu Toleat yang dimainkan oleh mang Parman tersebut di undang untuk bermain di Panen raya sekaligus untuk lebih mengenalkan alat musik Toleat ini pada Masyarakat sekitar.

Gambar 2 (toleat dipergelarkan dalam ujian kompetensi keahlian)

Pada tahun 90an, Mang Parman sudah tidak berdomisili di Daerah Subang dan  berpindah ke daerah Karawang, keberadaan Toleat ketika itu menemukan kebuntuan karena tidak adanya regenerasi dari mang Parman walaupun dalam usaha peregenerasiannya pernah melakukan pelatihan namun yang merespon hanya dua kecamatan di kabupaten Subang yaitu kecamatan Jalan cagak dan Kecamatan Subang. Lalu pada tahun 1997 Toleat ditemukan kembali oleh pak Asep Nurbudi atau lebih akrab disapa mang Aep Oboy dari pegawai kemendikbud. Karena pada masa itu toleat sudah disebut ikon kabupaten Subang dan diundang untuk mendeklarasikan Toleat di acara Damas Kabupaten Subang. Dari mang aep nurbudi pula toleat mengalami banyak sekali perkembangan dari yang tadinya toleat hanya memiliki lubang 4 oleh mang Aep bertambah menjadi lubang 8 semakin kaya pula nada yang dikeluarkannya. Sejak saat itu toleat lebih sering di undang dalam acara – acara resmi sampai ke festival, setelah ,menjadi tontonan atau hiburan, alat musik pendukung toleat menggunakan Kohkol, Kecapi, Kendang, dan Goong. Lagu – lagu yang dibawakannya ialah lagu – lagi dari kesenian ketuk tilu. Lalu mang Aep melakukan inovasi pada toleat dan alat pendukungnya yaitu dengan menggukanan Buyung yang fungsinya pengganti kendang, kolotok yaitu dari kalung kerbau, seker yaitu berbahan bambu yang diisi dengan biji kacang kedelai, lalu kohkol, dan nguk – nguk yaitu inovasi dari Hulu belut toleat yang dimasukan kedalam  tempurung kelapa sehingga ketika di tekan menghasilkan bunyi nguk – nguk.
Perkembangan Toleat masa kini bisa di bilang sangat pesat, karena sering dijumpai diberbagai acara serta sering digunakan atau sebagai pertunjukan Ujian Tugas Akhir serta Karya Tulis Tugas Akhir di ISBI Bandung.
Penulis : Giant Maeztoso
Sumber : hasil wawancara penulis dengan Pak Asep Nurbudi, S.Sn atau mang Aep Oboy

Senin, 06 Mei 2019

TARI WAYANG SUMEDANG GAYA RD. ONO

TARI WAYANG GAYA SUMEDANG
KARYA RD. ONO LESMANA KARTADIKUSUMAH

Penulis: 

Nandi Apriansah
NIM: 18123011
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan.


Gambar 1 (tari wayang jakasona)

Pertumbuhan tari di Sumedang sejak hadinya karya-karya Ono sudah menunjukkan suasana demokratis.  Artinya dalam petumbuhannya tidak terfokus pada salah satu jenis tari saja, tetapi beragam seperti Tari Keurseus, Tari Wayang, dan Tari Topeng.  Tari-Tarian itu sama-sama diayomi dan diperkenalkan kepada masyarakat.  Dengan dilatarbelakangi oleh munculnya berbagai jenis tari, para seniman Sumedang salah satunya Ono Lesmana berusaha mngembangkannya melalui pelatihan-pelatihan tari yang diselenggarakan di bawah payung lingkung seni Sekar Pusaka.
  1. Periode 1952 sampai 1987
Pada tahun 1952 karena tahun ini dianggap Tari wayang sudah tercipta. Hal ini terlihat dengan pertanda bahwa saat itu Tari Wayang mulai diajarkan kepada masyarakat.  Sedangkan tahun 197 merupakan periode terakhir dalam kehidupan sejarah berkesenian Ono, karena pada tahun ini beliau wafat.
Murid-murid yang tergabung di dalam periode ini dinilai cukup banyak dan hasil didikannya pun sangat menggembirakan.  Tari Wayang karya Ono mulai lahir pada periode kedua, adapun jenis tariannya sebagai berikut:
  1. Tari Jayengrana
Pada tahun 1942 Ono sudah merancang pembuatan Tari Jayengrana.  Setelah empat tahun (tepatnya tahun 1946) tarian ini baru terwujud secara lengkap. Tari Jayengrana ini mulai diajarkan pada tahun 1952.
  1. Tari Ekalaya
Tari Ekalaya ini diciptakan pada tahun 1954
  1. Tari Adipati Karna
Tari ini disusun pada tahun 1939 ketika Ono sedang menjabat Lurah di Kota Kulon Sumedang, dan mulai dibakukan serta diajarkan pada tahun 1955-an.
  1. Tari Anterja
Tari ini dibuat karena kebutuhan peran pada Wayang Orang dalam cerita Subadra Larung sekitar tahun 1955.  Saat itu pencipta menjabat camat di Tanjungsari Sumedang.
  1. Tari Gatotkaca
Pada tahun 1957 Ono menciptakan Tari Gatotkaca gandrung. Putri Pergiwa dan Pergiwati yang diidamkan Gatotkaca turut divisualkan dalam tarian ini
  1. Tari Yudawiyata
Tarian ini dibuat pada tahun 1957-1958.
  1. Tari Srikandi
Diciptakannya Tari Srikandi, karena adanya kebutuhan peran pada Wayang Wong sekitar tahun 1930-an.  Koreografinya pada waktu itu awalnya menggunakan tari Gawil dan baru pada tahun 1958 ada perbaikan dan pembakuan.
  1. Tari Gambir Anom
Untuk mewujudkan tarian secara utuh dan maksimal, maka pada tahun 1959 Tari Gambir Anom ini ditata lagi dan dibakukan koreografinya.
  1. Tari Jakasona
Tari ini diciptakan pada tahun 1947-1948, untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar di lingkungan seninya.  Namun demikian, tarian ini baru diterapkan kepada peserta kursus pada tahun 1960-an.
  1. Tari Gandamanah
Tari Gandamanah dibuat sekitar tahun 1960-an untuk kepentingan mengajar.
Pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1957 Ono sering dipanggil ke Istana Negara untuk mempertunjukkan karya-karyanya.  Para penari yang sering mengisi dan menyambut tamu dari luar negeri di Istana Negara adalah Emin, Oja Tuti, dan Sukma.  Selain itu, Ono juga pernah mengajar tari di kelompok seni Ekayana yang dipimpin oleh Duyeh di Jakarta atau pada saat itu salah seorang pelatih Ekayana sengaja datang ke Sumedang untuk menyadap tari karya Ono.  Maka dari itu sebagian masyarakat Jakarta ikut terimbas dan menyenangi tari karya Ono dengan jalan ikut mempelajarinya.  Pada zaman keemasannya sekitar tahun 1960-1970 tari-tarian Ono menyebar ke seluruh pelosok Sumedang.  
Gambar 2 (tari karya ono Lesmana)

Kemudian dalam rangka penyebaran dan perkenalan tari hasil karyanya, Ono sering menjadi duta seni dalam berbagai acara.  Dalam acara Muhibah Siliwangi yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 1962 disajikan pula Tari Jayengrana.  Selepas itu pada tahun berikutnya yaitu tahun 1970 Ono mengikuti Expo ke Jepang dengan materi Tari Gatotkaca dan Tari Jayengrana, yang dibawakan oleh Elia Marliah dengan kawan-kawan.  Tari Jayengrana yang dibawakan oleh Ina, ikut memeriahkan acara di Vancouver sekitar tahun 1980 bersama-sama dengan kelompok seni tari Indrawati Lukman.
  1. Periode 1987 sampai sekarang.
Setelah Ono Lesmana meninggal dunia pada tahun 1987, Padepokan Sekara Pusaka dipimpin oleh R. Effendi Lesmana, anak kedua Ono yang hingga saat ini masih terus berkiprah dalam melanjutkan jejak langkah sang ayah.  Disamping itu murid-murid Ono seperti Ade Rukasih yang di masa mudanya cukup potensial, akhirnya dipercaya untuk melatih tari karya-karya Ono di Museum Sumedang di bawah naungan Dangiang Kutamaya, dan masih berlangsung hingga saat ini.  Museum sumedang tidak hanya mengoleksi barang-barang antik yang mengandung nilai kesejarahan, namun juga unsur seni, khususnya tari yang pernah berkembang sehingga berbagai lapisan masyarakat Sumedang merasa tidak asing lagi,  dengan tarian Ono.  Setiap hari Minggu gemuruhnya iringan tari selalu terdengar seakan tak pernah berhenti dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun.
Kita perlu berbangga hati Tari Wayang Ono (salah satunya Tari Jayengrana)  telah dibawa oleh seorang keturunan Filipina yang bekerja di Hawai.  Tari tersebut diajarakan di Universitas Hawai oleh Benyamin.  Kemudian Madoka yang berasal dari Jepang antusias dalam mempelajari Tari Jayengrana untuk dijadikan bahan ajar di sana.  Berkat adanya pengakuan dari berbagai pihak tai-tari karya Ono hingga saat ini masih hidup walaupun perkembangannya tidak sepesat dahulu.  
  1. Tari Wayang Sumedang Karya Ono Lesmana.
Tari Wayang Sumedang diproduksi oleh seorang tokoh yaitu Ono Lesmana, sehingga ciri khas individu sangat nampak sekali.  Adapun produk tari wayang dari Sumedang akan dirinci sebagai berikut:
  1. Tari Jakasona berkarakter satria ladak.
  2. Tari Ekalaya berkarakter satria ladak.
  3. Tari Jayengrana berkarakter satria ladak
  4. Tari Adipati Karna berkarakter satria ladak.
  5. Tari Yudawiyata berkarakter satria ladak.
  6. Tari Gambir Anom berkarakter satria ladak.
  7. Tari Srikandi berkarakter putri ladak.
  8. Tari Gatotkaca berkarakter monggawa lungguh.
  9. Tari Antareja berkarakter monggawa lungguh.
  10. Tari Gandamanah berkarakter monggawa dangah.
Gambaran mengenai Tari Wayang Sumedang secara umum, terlihat di bawah ini dan akan dipaparkan lebih rinci berdasarkan bentuknya yaitu:
  1. Tingkatan Karakter
Di Sumedang Tari Wayang berkarakter satria ladak merupakan prosentase terbanyak jika dibandingkan dengan daerah lainnya.  Ciri karakter tersebut menjadi sesuatu yang khas bagi Ono (secara pribadi) dan Sumedang (secara kelompok), adapun rinciaya sebagai berikut: Putri ladak; satu tarian, putra ladak; enam tarian, monggawa lungguh; dua tarian, monggawa dangah; satu tarian.
  1. Bentuk Koreografi
  1. Penyajian
Berdasarkan daftar tarian yang telah dipaparkan diatas, penyajian Tari Wayang Sumedang terbagi menjadi; 1 tarian disajikan dalam bentuk berpasangan yakni Tari Yudawiyata dan 9 tarian lainnya dibawakan dalam bentuk tunggal.
  1. Perang dan non perang
Dengan melihat bentuk penyajian seperti diatas hubung kaitnya dengan bentuk perang dan non perang, maka bila disimpulkan  erolehan jumlahnya akan sama yaitu satu tari perang seperti Tari Yudawiyata dan sembilan lainnya termasuk tari non perang.
  1. Jenis Tarian
Seperti telah diuraikan pada bagian awal, bahwa jenis tarian disini merujuk pada jenis tarian berdasarkan kelamin, sementara jika memperhatikan dari segi nama tarian, sudah barang tentu hanya satu tarian yang berjenis kelamin putri yaitu Tari Srikandi, sisanya yang berjumlah sembilan tarian termasuk jenis putra.
  1. Struktur
  1. Tari Jakasona: berstruktur satu yaitu lagu panglima berpola irama sedang.
  2. Tari Ekalaya:  berstruktur dua yaitu Angle sawilet berpola irama sedang dan Angle dua wilet berpola irama cepat.
  3. Tari Jayengrana: berstruktur satu yaitu Tumenggungan sawilet berpola irama sedang.
  4. Tari Adipati Karna: berstruktur satu yaitu belenderan sawilet berpola irama sedang.
  5. Tari Yudawiyata: berstruktur dua yaitu Tumenggungan sawilet berpola irama sedang Tumenggungan kering berpola irama cepat.
  6. Tari Gambir Anom: berstruktur satu yaitu Udan Mas berpola irama sedang.
  7. Tari Srikandi: berstruktur satu yaitu Gawil Kakacangan berpola irama sedang.
  8. Tari Gatotkaca: berstruktur dua yaitu Macan Ucul sawilet berpola irama sedang, dan Macan Ucul dua wilet berpola irama cepat.
  9. Tari Antareja: berstruktur dua yaitu Tumenggungan gurudugan berpola irama cepat dan Tumeggungan sawilet berpola irama sedang.
  10. Tari Gandamanah: berstruktur dua yaitu Macan Ucul sawilet berpola irama sedang, dan Macan Ucul dua wilet berpola irama cepat.
  1.  Bentuk Koreografi
  1. Bentuk lagu
Lagu yang digunakan untuk mengiringi Tari Wayang Sumedang terdiri dari 10 (sepuluh) tarian, semuanya menggunakan lgu Sekar Alit atau sawilet.
  1. Jenis Iringan
Jenis iringan yang digunakan (semua) adalah gamelan (instrumen) dan kakawen (vokal dalang) tidak dipakai sama sekali.
  1.  Busana
  1. Sumber
Busana Tari Wayang Sumedang berbeda dengan daerah lain karena selain bersumber pada wayang golek ada pula yang bersumber pada beberapa tarian yang dibuat sendiri oleh penciptanya, seperti: Tari Jayengrana, dan Tari Jakasona.
  1. Motif hiasan dan bahan kain
Sumedang merupakan daerah transisi karena jika disebut kampung kebudayaanya sudah seperti kota, dan jika disebut kota belum seutuhnya kota.  Sumedang yang terletak antara Bandung dan Cirebon mendapat pengaruh sangat besar dari kedua kota ini terutama pada perkembangan seni tari.  Hal ini terlihat pada busana tari yang sudah menggunakan hiasan yang kaya dengan warna, begitu juga dengan bahannya yang sudah memakai beludru.
  1. Rias
  1. Sumber rias Tari Wayang di Sumedang mengacu pada tata rias Wayang Golek.
  2. Bahan atau alat untuk rias wajah sudah memakai eye shadow walaupun bahannya tidak terlalu bagus kualitasnya.


Narasumber:
Rd. Widawati Noerlesmana kartadikusumah
Pihak Museum Keraton Sumedang

Sumber foto:
Dokumentasi UJIKOM jurusan seni tari SMK Pangeran Aria Soeria Atmadja Sumedang

SENI MAMAOS DARI CIANJUR


TEMBANG SUNDA CIANJURAN

Ditulis oleh:

Sania Putri Oktaviani
NIM 18123005
Mahasiswi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan


Tembang Sunda Cianjuran merupakan salah satu kesenian khas masyarakat sunda yang berasal dari Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Menurut salah satu tokoh tembang sunda cianjuran yaitu Drs. H. Yus Wiradiredja, istilah tembang sunda cianjuran ini adalah perkembangan dari Seni Mamaos, jadi pada zaman dahulu tembang sunda ini terkenal dengan sebutan Seni Mamaos. Secara Terminologi, tembang sunda merupakan hasil dari seminar pada tahun 1962 oleh para budayawan sunda. Dalam seminar tersebut terdapat diskusi antara para budayawan mengenai nama tembang sunda, yang pada mulanya dikenal dengan Seni Mamaos, namun ditetapkan dengan nama Tembang Sunda, karena menurut mereka, seni Mamaos terdapat di daerah-daerah lain, misalnya seni mamaos Garut, seni mamaos Tasikmalaya, dan yang lainnya. Kemudian ditetapkanlah nama Tembang Sunda Cianjuran.

    
Asal mula lahirnya tembang sunda cianjuran itu lahir pada abad ke-19 tepatnya pada tahun 1840-an, ketika Dalem Pancaniti menjabat sebagai bupati Cianjur yang ke-8. Dalem Pancaniti adalah sosok bupati yang mempuni dalam ilmu pemerintahan, ilmu keagamaan bahkan dalam ilmu kebudayaan. Bahkan sejak kecil, Dalem Pancaniti sudah memiliki kegemaran dalam berbagai kesenian, karena sejak beliau kecil ayahnya sering mengundang berbagai kesenian ke Pendopo Cianjur, misalnya seni pantun, seni degung, wayang golek dan yang lainnya. Hal tersebut membuat Dalem Pancaniti menciptakan Tembang Sunda Cianjuran. Ketika menjabat sebagai bupati Cianjur, Dalem Pancaniti ingin membuat sebuah kesenian baru. Dalam proses menciptakan Tembang Seni Cianjuran, Dalem Pancaniti mengundang beberapa ahli kesenian, diantaranya ahli pantun, ahli degung dan yang lainnya. Hal tersebut yang membuat lahirnya wanda papantunan, wanda dedegungan, wanda jejemplangan, wanda rarancagan dan panambih dalam Tembang Sunda Cianjuran. Jadi lahirnya Tembang Sunda Cianjuran itu adalah hasil dari berbagai genre seni suara yang ada di Cianjur.


Penyebaran Tembang Sunda Cianjuran ke berbagai daerah di Jawa Barat yaitu pada zaman dahulu Cianjur merupakan pusat pemerintahan priangan yang di zaman sekarang pusat pemerintahan Jawa Barat terletak di Kabupaten Bandung. Pada masa periode bupati Wiratanakusuma ke-5, tepatnya ketika beliau menjabat sebagai bupati pada tahun 1910-1920 dan ketika beliau telah selesai menjabat sebagai bupati, beliau pindah ke Bandung dengan membawa perangkat alat degung,dan juga alat-alat kesenian lainnya, bahkan beliau membawa ahli seni yang bernama Raden Ece Majid ke Pendopo Bandung untuk melatih kesenian di lingkungan Pendopo. Ketika Wiratanakusuma menjabat menjadi bupati Bandung, Tembang Sunda Cianjuran sudah mulai dikenalkan ke bupati-bupati lainnya, dengan kata lain Bandung merupakan pusat pengembangan Tembang Sunda Cianjuran.
Sebelum menyebar ke daerah-daerah lain, Tembang Sunda Cianjuran belum menjadi seni pertunjukan, karena kesenian ini hanya ditampilkan di pendopo Cianjur yang hanya disaksikan oleh Para Menak Cianjur. Namun setelah menyebar ke daerah-daerah lain, Tembang Sunda Cianjuran sudah mulai berkembang menjadi seni petunjukan, dimana kesenian ini disaksikan oleh para tamu dan mulai disaksikan oleh masyarakat. Pada tahun 1960-an, Tembang Sunda Cianjuran ini mulai dibuatkan Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran oleh Daya Mahasiswa Sunda (Damas) hingga sekarang.  
Namun sampai saat ini, Tembang Sunda Cianjuran dikenal dengan salah satu kesenian Para Menak atau kesenian elite, dan juga termasuk ke kesenian kalangenan pada masanya, namun setelah berkembangnya zaman, Tembang Sunda Cianjuran ini dapat dikategorikan sebagai hiburan klasik bagi masyarakat.
Waditra yang digunakan dalam kesenian Tembang Sunda Cianjuran ini yaitu, Kacapi Indung, Kacapi Rincik, Suling dan Rebab. Pertunjukan Tembang Sunda Cianjuran di masa sekarang tidak terdapat perubahan yang signifikan, masih ditampilkan dengan gaya yang elegant, klasik, dan berwibawa.


Sumber : Hasil wawancara dengan tokoh Tembang Sunda Cianjuran Drs. H. Yus Wiradiredja.
               ( pada tanggal 26 April 2019 di Ruang Baca ISBI Bandung )
Koleksi Foto : 1. Foto koleksi Deskripsi kesenian Jabar ( Ganjar Kurnia, Arthur s. Nalan )
                      2. Foto koleksi Giant Maeztoso di  TVRI tahun 2017

JANAKA SUNDA, SENI LAWAK SUNDA

JANAKA SUNDA Ditulis oleh: Syalman Andriandani NIM: 18123036 Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, jurusan seni karawit...