Tampilkan postingan dengan label RUMPUN SENI HIBURAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUMPUN SENI HIBURAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2019

JANAKA SUNDA, SENI LAWAK SUNDA

JANAKA SUNDA
Ditulis oleh:
Syalman Andriandani
NIM: 18123036
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, jurusan seni karawitan.

Gambar 1 (pertunjukkan jenaka Sunda secara konvensional)

Janaka Sunda atau Kacapi Janaka Sunda, merupakan seni pertunjukan yang berasal dari Jawa Barat yang menyajikan lagu-lagu bertema janaka, diiringi petikan kacapi dengan irama bebas (ajeg). Penyajian Janaka Sunda mempergunakan waditra Kacapi siter, bisa ditampilkan oleh seorang atau dua orang pemain.
Penampilan Janaka Sunda yang komunikatif dapat menciptakan suasana penuh kegembiraan. Lagu-lagu bergaya jenaka (humor) dengan mimik muka yang lucu dari para pemainnya mengandung daya tarik tersendiri, hingga para penonton yang mendengarkan dibuat tertawa.
Seniman penggarap Janaka Sunda yang paling populer dewasa ini, dikenal dengan nama Utun atau Mang Utun dan Mang Dekok (Ekok).
JANAKA SUNDA UTUN UKOK
    Mang Utun dan Mang Dekok bermain janaka sangat kompak. Keterampilannya membawakan teknik vokal bernada tinggi dalam lagu-lagunya terkesan tetap ringan dan sangat spontan.
    Dibawah ini terdapat contoh lirik lagu Janaka Sunda, banyak yang berbentuk lirik sindiran :
“Trak Trek Trok jalan ka kontrak
gurutuk sora keretek, dsb.
Triliktik sora jangkrik
Toroloktok sora londok, dsb.
Anak hayam turun sapuluh (anak ayam turun sepuluh)
Paeh hiji tinggal salapan (mati satu tinggal sembilan), dsb”.
    Lirik lagu seperti diatas selalu diiringi dengan petikan kacapi yang bersifat humor. Selain itu ia menampilkan mimik muka yang menggambarkan kelucuan, kesedihan, dan kemarahan. Mimik muka dalam gambaran diatas diwujudkan melalui bentuk bibir dengan posisi mulut yang khas.
    Dilihat dari segi irama, petikan Kacapi Mang Utun kadang-kadang berirama bebas dan kadang-kadang berirama konstan. Pada dasarnya irama-irama lagu itu ditampilkan menurut kehendak hatinya, namun tetap memperhatikan akhir kalimat lagu. Kalimat-kalimat lagu disajikan dengan irama yang tidak stabil, yang terpenting adalah lengkingan suara, alunan suara, ornamentasi teknik vokal dan gaya improvisasinya.
Tahun 1945 Mang Utun belajar Janaka Sunda kepada seniman bernama Holil dan dilanjutkan belajar Mang Eon Muda (Mang Ganda) serta Mang Olas yang terkenal dengan sebutan Mang Ecle atau Mang Ehe. Pada jamannya, Mang Eon dan Mang Ehe sangat terkenal kejenakaannya dalam ogel. Sehingga timbulah ungkapan “Ngeunah Ehe teu ngeunah Eon” yang sangat populer di masyarakat Jawa Barat saat itu.
Untuk meneruskan kelangsungan hidup Janaka Sunda, Mang Utun telah melatih Dayat Hidayat (Mang Dekok) dan Mang Syarip sebagai muridnya. Di lingkungan ASTI/STSI Bandung, dengan gayanya yang khas Yoyon Darsono bersama Tarjo pernah menggarap Janaka Sunda.

Gambar 2 (pertunjukkan jenaka Sunda modern)


JANAKA SUNDA GAYA MEMENIRAN
    Penampilan Janaka Sunda dahulu, biasa disebut memeniran (gaya menir). Memeniran mulai hidup di Jawa Barat sekitar tahun 30an. Para tokohnya saat itu diantaranya Epen Sutardi yang terkenal dengan lagu-lagu stek Orkesnya (Orkes Kacapi). Pada waktu itu masih sempat direkam dalam bentuk piringan hitam Canary Record dilema Dilema Record. Lagu-lagu yang direkam dalam piringan hitam Canary Recod antara lain: Bobodoran Gatotkaca Ngapung, Bobodoran Sapatu Weteuh, Bobodoran Cerik Epen dengan kacapi orkesnya bernama “Sari Pangluyu” direkam oleh Dilema Record. Lagu yang terkenalnya diantaranya “Balon Ngapung” diciptakan pada jaman Jepang tatkala di Alun-alun Bandung diadakan upacara menerbangkan Balonn-balon
    Tokoh Janaka Sunda yang sebaya adalah Husen yang dikenal dengan menir. Kemudian dilanjutkan oleh muridnya yang terkenal dengan julukan Menir Muda (nama aslinya Holil). Petikan kacapinya saat itu dikenal dengan “Si Cakar Harimau” atau “Cakar Maung”. Karena petikannya yang sangat terampil dan mengesankan para penonton.


    Dalam pementasannya ia dibantu oleh seorang kawannya bernama Mang Oyon. Sedangkan dalam rekaman kecapinya dibantu oleh seorang pesinden bernama Eros Rostika. Lagu-lagu yang direkam oleh Canary Record diantaranya lagu Bapak Tani, Bobodoran Menir Muda, Bala Wiri, Dewi Asri, Gendu, Kopi Susu, Polos Gado-gado, Silir Menangis, Lingkung Lembur, Bela Pati, Persatuan Meri, Ros Bungbulang, Suasana Baru, Kacang Asin, Paron, Goyong, Balenderan, Sorban Bandung, Salah Sangka, dan Coyor Gado-gado.


Sumber     : 
Buku “Ragam Cipta” 
karya :
Atik Soepandi, S. Kar 
Drs. Enip Sukanda. P
Drs. Ubun Kubarsah. R
Sumber Foto     :
 Buku “Ragam Cipta”
Dokumen P-KAS 11

Senin, 20 Mei 2019

TARI DOGER

TARI DOGER

ditulis oleh:

Benny herdian
NIM 18123017
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan.


Gambar 1 ( pergelaran tari Doger)

    Istilah doger sering disebut-sebut dalam dunia senipertunjukan khususnya di jawbarat sebagai salah satu jenis kesenian tradisionalyang lahir dan berkembang di dataran pantai utara jawa barat, antara kabupaten subang dan kabupaten karawang. Dalam arti yang luas menunjuk kepada satujenis pertunjukan rakyat, yang apabila dilihat dari segi fungsinya merupakn alat untuk hiburan atau sarana pergaulan.
    Di dalam Kamus Bahasa Sunda, Doger mengandung pengertian “tongtonan  atawa kamonesan rayat make ronggeng budak parawan, diigelan”. (LBBS. 1983: 112). Batasan yang ada dalam Kamus Bahasa Sunda menganai penarinya yang masih perawan tampaknya bukan tanpa sadar, dan mengenai hal ini akan terlihat pada uraian tentang perkembangan Doger selanjutnya.
    Pada perkembangan selanjutnya, istilah Doger dipakai untuk menyebut nama kepada  penari wanita  dalam pertunjukan tersebut. Lilis Sumiati dalam tulisannya menyebutkan tentang tari rakyat Jawa Barat bahwa :
Doger adalah merupakan jenis tari rakyat yang termasuk dalam kategori Ketuk Tilu. Hidup di pesisir utara anatar kabupaten Karawang dan Kabupaten Subang. Sistem pertunjukannya adalah ngamen berkeliling ke setiap tempat. Dapat pula dikategorikan tari pergaulan karena di dalamnya ada penari pria (Pamogaran) dan wanita (Doger). (Kapita Selekta Tari, 1996:7)
Keterlibatan para penari  wanita didalamnya tidaklah semata-mata berhubungan dengan kepentingan ekonomi saja, tetapi ada diantaranya yang bertujuan mencari pengalaman ataupun untuk mendapatkan jodoh .
-bentuk pertunjukan doger
Dalam data data yang terkumpul diperoleh gambaran bahwa bentuk pertunjukan Doger antara tahun 1920-1960-an atau jaman penjajahan belanda dan jepang sampai pada masa revolusi adalah merupakan pertunjukan keliling (ngamen), sehingga waktu dan tempatnya tida bisa di tentukan karena selalu berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang mereka inginkan atau karena adanya permintaan dari masyarakat.
Biasanya pertunjukan kesenian doger biasa di pentaskan di tempat-tempat terbuka dan berlangsung pada malam hari mulai dari pukul 20.00 sampai dengan pukul 23.00, bahkan bisa sampai semalam suntuk
Jumlah penari wanita yaitu antara 7-12 orang ,pemusik(nayaga) jumlahnya antara 5-6 orang dan ditambah 1 orang lurah kongsi sebagai pimpinan rombongan
Alat alat yang digunakan satubuah kendang indung (kendang besar), dua buah kulanter (kendang kecil),satubuah tarompet , kecrek , satubuah gemyung (jenis rebana dengan ukuran paling besar), dua buah dog-dog kecil (sejenis bedug dengan ukuran paling kecil ) yang disebut kentrang. Perlengkapan lain dari pertunjukan doger adalah sebuah oncor, yaitu semacam alat penerangan yang bersumbu. Oncor tersebut terbuat dari kaleng berukuran cukup besar, di sampingnya terdapat tiga mata api, dan memakai tiang penyangga terbuat dari bamboo. Yang ukuran tingginya kurang lebih 2 meter atau ssedikit lebih tinggi dari ukuran tinggi manusia pada umumnya. Lagu-lagu yang dibawakan pada musik pembuka (overture) atau tatalu adalah lagu-lagu yang sering juga digunakan oleh kesenian tradisi pada umumnya, seperti  ; karatagan, kebo jiro dan karangrangan.
Pada urutan selanjutnya setelah lagu-lagu tataluan selesai dibawakan, dilanjutkan dengan masuknya beberapa penari wanita ke dalam arena pertunjukan, yang sebelumnya (ketika tatalu sedang berlangsung) telah berbaris di samping kanan posisi gamelan, mereka berjalan mengelilingi oncor dengan dipimpin oleh seorang penari pembarepi primadona atau sri panggung (biasanya penari yang paling cantik dan paling pandai menarinya).  Pakaian yang digunakan oleh para penari ini adalah kain sinjang, kaos oblong, sempol/apok, kewer, epek dan sebuah selendang yang digantungkan pada kedua bahu.  Adapun tarian yang dilakukan pada bagian ini adalah gerak berjalan memutar mengelilingi oncor dengan iringan lagu Arang-Arang Doger dan biasa disebut dengan Arang-Arang.
    -Pertumbuhan  dan penyebaran kesenian Doger di Subang
    Doger merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang hidup dan tumbuh subur didaratan utara kabupaten Subang Jawa Barat, dan diperkirakan pertumbuhan kesenian ini pada zaman penjajahan Belanda, Jepang sampai dengan pertengahan tahun 1960-an di sekitar daerah Pabuaran, Patok Beusi, Ciasem, Purwadadi, Manyingsal dan sekitarnya (Idit Supardi Madiana Wawancara  di Subang, 20 Januari 2001).
    Penyebaran kesenian doger hanya bersifat pertunjukan-pertunjukan saja, dalam arti  tidak mendidik secara langsung (mengadakan pengkaderan) untuk membuat penambahan grup-grup baru, sehingga kalaupun ada grup-grup baru sifatnya hanya peniruan saja dari akibat pertunjukan keliling kesenian Doger.
    Seperti kesenian tradisional pada umumnya bahwa, pertumbuhan serta penyebaran terjadi karena sifat penularan atau peniruan tidak langsung, sehingga tidak heran apabila kesenian tradisi sangat jarang diketahui penemu atau penciptanya.
    -Fungsi Kesenian Doger
    Di Subang Doger berfungsi sebagai sarana hiburan dan pergaulan, ini bisa dilihat dari bentuk pertunjukannya yang mengungkapkan rasa kegembiraan rakyat secara langsung sehingga terjadi komunikasi (seni yang kemunikatif), dengan demikian Doger menunjukan ciri sebagai pertunjukan seni yang bersifat profan.
   
Sumber : Skripsi Cahya Nugraha Karawitan 2015 ISBI Bandung
Sumber foto : Dokumentasi Tanthi okta

Rabu, 15 Mei 2019

TARI JAIPONG, TARI TERPOPULER DI JAWA BARAT

Tari Jaipongan


Ditulis oleh:


Moch. Restu Aprilyyadi Syaputra
NIM 18123012
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia bandung
Jurusan seni karawitan



Gambar 1 (pergelaran tari jaipong)

Salah satu kota di Jawa Barat yang melahirkan beberapa jenis kesenian adalah kota Bandung. Kesenian yang lahir dan berkembang tersebut salah satunya yaitu Tari Jaipongan yang diciptakan oleh Gugum Gumbira. Ketertarikan awal masyarakat terhadap kesenian ini, yaitu pandangan terhadap alunan musik dan kegemulaian penari dan merespon alunan musik jaipongan tersebut.
Jaipongan adalah salah satu jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat serta bersumber dari kesenian rakyat seperti : ketuk tilu, pencak silat, dan topeng banjet. Pada tahun 1980-an tari jaipong berhasil dikembangkan oleh Gugum Gumbira, meskipun pada saat itu sempat muncul dari masyarakat semacam konvrontasi, jaipong dipandang sebagai tarian erotik yang kurang mendidik, karena menunjukan gerak pinggul yang menjadi identik dengan erotik dan sensual. Dalam penyajiannya, jaipong didukung oleh dua unsur seni, yaitu seni tari dan seni karawitan, kedua unsur tersebut saling berkaitan dan saling mendukung dan bersinergi diantara keduanya, sehingga kehadirannya tidak terpisahkan.
Sunarto dalam tesisnya menyebutkan, bahwa : “dalam pertunjukan jaipongan terdapat dua unsur dasar yang keduanya menjadi kesatuan sebagai penanda identitas jaipongan, yaitu unsur tari dan unsur karawitan”.
Pada tahun 1975 kata jaipong sudah populer di daerah kabupaten karawang. Jaipongan sendiri merupakan peniruan bunyi kendang (anomatope), yang biasa dilisankan oleh penari bodor (lawak) pada pertunjukan banjet. Kata jaipong itu memang bukan arti kata suatu bangunan kesenian, tapi dibawakan oleh Ali saban dan Ijem pada lakon teater rakyat topeng banjet, mereka lantunkan untuk meniru bunyi pukulan kendang “blaktingpong” yang dilafalkan menjadi “jaipong”.

Gambar 2 (pergelaran tari jaipong pada hajatan)


Pada tahun 1978 Gugum Gumbira belum memakai istilah jaipongan pada karya-karyanya, melainkan yang berorientasi pada tari ketuk tilu seperti oray welang, kangsreng, geboy, dan sebagainya. Munculnya jaipongan bagi masyarakat Sunda bukan hanya sekedar sebagai tontonan baru melainkan seluruh lapisan masyarakat Sunda dapat terlibat didalamnya menjadi bagian dari pertunjukan jaipongan. Ketika pertunjukan jaipongan berlangsung, selain menjadi penonton, masyarakat luas, baik kalangan anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, laki-laki, maupun perempuan, dapat pula terlibat didalamnya menjadi penari partisipan. Keterlibatan mereka pada dasarnya dikarenakan dalam jaipongan mereka bisa dengan mudah meluapkan ekspresi masing-masing, tanpa aturan yang ketat, dan tanpa harus melalui proses latihan sesuai dengan kebutuhan jaipongan tersebut. Hal itu berbeda dengan jenis-jenis pertunjukan lainnya, misalnya ketika pertunjukan kiliningan, wayang golek, tari keurseus, dan lain sebagainya: masyarakat luas hanya berperan sebagai penonton atau apresiator.
Kelebihan dalam jaipongan adalah warna tepak kendang yang begitu variatif dan dinamis, sehingga merangsang orang yang mendengarkan untuk mengikuti irama kendang.

Sumber :
-Skripsi Karya seni dari Mocmahad Lucky Riyadi (1422282) dalam penyajian Kendang dalam Jaipongan.
-Sunarto : 2009 : 05
-Nalan, 2007 : 3, dalam skripsi Firman Hidayat
Sumber Poto : 
Dokumen pribadi
Restu 

Senin, 13 Mei 2019

TARI UMBUL DARI KAB. SUMEDANG

TARI UMBUL


Ditulis oleh:

Adi trisampurno
NIM : 18123013
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung 
Jurusan seni karawitan


Gambar 1 (pergelaran tari umbul)

Seni Tari Umbul merupakan bentuk kesenian daerah  Situraja Utara Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tari umbul merupakan suatu jenis tarian yang dilakukan oleh tua ataupun muda, yang para pelakunya berperan khusus sebagai penari dan nayaga atau disebut pangrawit.
Tarian tersebut dipadukan dengan karawitan sehingga perpaduan tersebut merupakan suatu kesenian yang sudah lama dikenal terutama di daerah Situraja  Utara Kabupaten Sumedang.
Seni Tari Umbul adalah salah satu jenis kesenian rakyat yang dimana tari rakyat itu tidak ada penciptanya. Di dalam karya seni yang sifatnya tradisional, biasanya selalu kesulitan untuk mengetahui siapa yang menjadi penciptanya. Terjadinya hal ini disebabkan karya seni tradisional merupakan karya bersama maka wajar saja seandainya di dalam karya seni tersebut terdapat idiom atau ciri-ciri dari unsur seni tradisional lainnya. Kenyataan bahwa agak sukarnya mencari pencipta sebuah kesenian tradisional menimpa pula pada tari umbul ini meskipun menurut beberapa sesepuh tari umbul di Sumedang mengakatakan,bahwa yang menciptakan tari umbul ini adalah Bapak Sahri dari kampung Babakan Pasantren, Situraja Utara.
Tetapi setelah di telaah ternyata ia hanya mengubah tari umbul tersebut, yang idiom-idiom geraknya berasal dari tari umbul yang ada di Cirebon ketika Pak Sahri menonton tari umbul tersebut.sehingga ia mencoba untuk menyusun kembali gerakan-gerakannya.
Gambar 2 (busana tari umbul)

Tokoh pendukung dengan tumbuh adanya kesenian rakyat yaitu Tari Umbul diawali oleh Bapak Sahri di kampung babakan pasantren desa Situraja Utara Kabupaten Sumedang, yang bertindak sebagai pimpinannya, sedangkan disamping bapak Sahri banyak lagi pendukung lainnya yang terdapat di dalam rombongan ini antara lain yaitu sebagai penari Eruk, Enjum, Eem, Ungki, Ninik (sebagai penari bodor). Sebagai penayaga Endin, Wikanta, Sahri, Memo, Ahya, Santawi, Rasim.
Tari Umbul ternyata adanya keterangan ada bodor tetapi yang di maksud bodor disini merupakan bodor dalam gerakannya.
Pada umumnya hampir seluruh tarian tradisi selalu memakai musik atau karawitan sebagai pengiringnya, begitu pula Tari Umbul. Tari umbul diiringi dengan empat dog-dog yang terdiri dari satu tilingtingtit, satu tong, satu jongjrong, satu jedur atau badublag, dapat ditambah dengan tarompet.
Tari Umbul merupakan kesenian tradisional yang telah memiliki susunan gerak. Adapun gerakan yang terdapat pada Tari umbul ini ialah sembahan, olah bahu, tolak pinggang, rengge sujudan, olah bahu geber atas, olah dada atas, tolak pinggang atas, rengge rukuan, sabetan, tumpangan, oray-orayan. Pola gerak yang ada pada Tari Umbul ini bersifat sederhana, di dalam susunan geraknya merupakan pengulangan dari gerak-gerak khusus.
Tata rias dan busana pada Tari Umbul sangat sederhana diantaranya kacamata hitam, baju kebaya, kain panjang atau samping, dan sampur atau selendang. Sedangkan rias yang dipergunakan Tari Umbul dipergunakan secara sederhana yaitu rias cantik.
Pertunjukan Tari Umbul digunakan sebagai hiburan untuk pawai atau arak-arakan dalam rangka memperingati hari besar  nasional yaitu 17 agustus. Dan sering juga diperlombakan yang iikuti oleh anak-anak maupun remaja dan ibu-ibu. Tari Umbul juga telah masuk dalam Rekor Muri oleh peserta terbanyak untuk memperkenalkan tari tradisional Sumedang kepada generasi muda yang diikuti oleh 3000 lebih penari yang dilaksanakan di Alun-alun Sumedang pada tanggal 20 Mei 2012.



Sumber :
Skripsi tinjauan deskriptif tentang tari umbul oleh Euis Neti Akademi Seni Tari Indonesia 1986

Senin, 06 Mei 2019

TEREBANGAN DARI SUMEDANG


SENI TEREBANG SUMEDANG

Penulis:

Muhammad Aprilian
NIM: 18123007
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan



gambar 1 (terbang buhun dalam buku MUSIC IN JAVA karya .KUNTSS)


Terebangan adalah salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Barat, disajikan atau di pertunjukan sebagai media dakwah, ritual keagamaan, dan  hiburan. Di Jawa Barat Terebangan saat ini masing-masing daerah alhamdulillah sudah melestarikan atau sudah memiliki kesenian Terebangan, meski tidak seperti Terebangan Buhun yang asli seperti waktu dulu. Yang sekarang menjadi terkenal adalah Terebangan Kolaborasi yaitu terdapat dari daerah  Sumedang, Soreang, Majalaya, dan lain-lain. Dari daerah tersebut Terebangan mempunyai ciri khas masing-masing dan alat-alatnya pun bertambah. Dari beberapa narasumber yang telah saya datangi diantaranya Dosen ISBI BANDUNG Bapak Saryoto S. Kar., M. Hum menyatakan bahwa ISBI BANDUNG yang dulunya ASTI atau STSI bersama Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Jawa Barat,  Bandung pernah meneliti Terebangan Buhun dari Sumedang Jawa Barat Indonesia alat yang di pakai di Terebangan Buhun waktu itu diantaranya ada terbang kempring, terbang ageung, terbang gebrung, terbang talingtik, terbang goong, dan kendang. Berdasarkan hasil wawancara kepada salah satu narasumber dari Bandung beliau adalah Dzurriyah Rosul yaitu yang terhormat Habib Muhsin BSA mengatakan bahwa asal mulanya Terebangan itu memang sudah ada pada zaman Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani sekitar tahun 1895 kurang / lebih, namun alat yang digunakan yaitu Terebangan Besar. Terebangan waktu itu di bawa dari daerah Barat yaitu Arab, Yaman, dan dibawa oleh para Wali ke daerah jawa, termasuk di daerah Jawa Barat. Pada saat itu Terebangan di pakai / dipertunjukan sebagai Media Dakwah, Ritual Keagamaan Khusus Agama Islam, diantaranya sebagai puji-pujian, pembacaan sholawat (sholawat Al-Barjanji, Sholawat Simtudduror dan sholawat lainnya). Di pakai di acara ngaruat (mengusir makhluk/jin), di pakai sebagai acara hiburan (Walimatun Nikah, Syukuran, Khitanan dan lain-lain). Kalau di Jawa Tengah dan Jawa Timur Terebangan di sebut Hadroh. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah terkadang Hadroh sering di panggil Terebangan /Terbang atau sebaliknya, namun yang paling sering di sebut oleh masyarakat adalah Hadroh. Perbandingan atau perbedaan antara Terebangan Jawa Barat dan Terebangan Jawa Timur maupun Jawa Tengah,  adalah dari jenis alat dan tabuhan atau pukulan/tepukan. Dan untuk Jawa Barat sendiri memiliki Terebangan Buhun yang tadi sudah sedikit kita bahas. Beraneka ragamnya, serta ciri khasnya yang menjadi sumber kekayaan bangsa ini khususnya di daerah Jawa Barat sehingga Terebangan harus kita jaga,  serta harus kita lestarikan dengan baik dan di dokumentasikan lewat sosial media supaya tidak punah. Terebangan saat ini sering di kolaborasikan bersama Marawis, Gembyung,  Calung, Rebana,  dan lain-lain. Ada beberapa Group Terebangan yang sangat populer saat ini di antaranya ada Al-Hasani, Al-Mansyuriyyah, El-Mathla , dan Majelis Dzikir Al-Furqon. Mungkin nanti kawan-kawan semua bisa lihat videos serta gambar mereka di account mereka, tinggal cari dan masukkan nama-nama groupnya lalu lihat di aplikasi  youtube atau google lalu seperti apa terebangan yang mereka tampilkan.



gambar 2 (TERBANG MODERN)
 Kita bahas Group yang satu ini yaitu El-Mathla Group berasal dari Pondok Pesantren Mathlaunnajah Desa Sukasirna- Jatinunggal - Sumedang - Jawa Barat Indonesia yang mempunyai ciri khas tersendiri membawakan seni pertunjukan nya bahkan disebut unik, mereka membawakan alat musik diantaranya 3 alat Marawis, dan 3 alat Terebangan/Hadroh dan di tambah musik modern yaitu Keyboard . Mereka sering tampil di acara Keagamaan (Puji-pujian, Sholawat Al-Barjanji, Sholawat Simtudduror,  dan sholawat lainnya), sering tampil di acara Maulid Nabi, Rojaban dan acara keagamaan lainnya.  Selain di acara keagamaan mereka sering tampil di acara walimatunnikah, acara syukuran, dan mereka selalu mengikuti festival di daerahnya. Memang kesenian Terebangan ini kebanyakan pada zaman sekarang di kolaborasikan karena supaya lebih banyak para apresiator, dan mengikuti perkembangan zaman. Saat ini masing-masing pesantren khususnya daerah Jawa Barat sudah ada kesenian Terebangan bahkan seluruh Indonesia.
Sekian dan terimakasih. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah satu kata yang kurang dimengerti dan kesalahan dalam penulisan.


Narasumber : Dzurriyah Rosul Habib Muhsin BSA,
Bapak Saryoto S. Kar., M. Hum  , Imapril Official, El-Mathla  Group.

Sumber Photo : 
Buku music Java jilid 2 karya J. KUNTS, 
Muhamad Aprilian,  El-Mathla Group Entertainment.

Senin, 29 April 2019

SENI BANGRENG DARI KABUPATEN SUMEDANG JAWA BARAT


SENI BANGRENG

Ditulis oleh:


Adi Trisampurno
NIM 18123011
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan



Gambar 1 (pergelaran seni bangreng kab. Sumedang)

Bangreng  merupakan salah satu  jenis kesenian yang berkembang sebagai sarana Hiburan  khas masyarakat Kabupaten Sumedang. Bangreng dapat di tampilkan pada acara-acara hajatan pernikahan dan ruwatan hajat lembur. Bangreng berkembang diwilayah Kabupaten Sumedang diantaranya terdapat di daerah Kecamatan  Situraja, Kecamatan Darmaraja,Kecamatan Cimalaka, kecamatan Tanjungkerta, Kecamatan Buahdua dan Kecamatan Wado. Secara geografis wilayah tersebut merupakan daerah pegunungan yang potensi mata pencaharian masyarakat pada hasil pertanian sawah dan ladang. Pengaruh kesenian rakyat yang berkembang pada masyarakat  sebelumnya menjadi pijakan dari proses pembentukan sistem kekuasaan yang berkembang di Kabupaten Sumedang.
Bangreng berasal dari kata Terebang (alat musik) dan Ronggeng (penari dan penyanyi wanita) yang hidup dari dua golongan kesenian rakyat dan kesenian menak. Pada perkembangan selanjutnya Bagreng mengalami penambahan alat musik atau waditra berupa perangkat gamelan laras pelog dan salendro, hasil pengaruh dari sistem kekuatan pemerintah pada masa kedudukan kewedanan Sumedang Pangeran Soeria Kusumah Adinata (1863 – 1882), dengan berkembangannya seni Tayub.
Idea atau gagasan yag merupakan sebuah pemikiran-pemikiran yang dapat dilihat dari awal mula bangreng berasal dari Gembyung,  Terebangan menjadi Bangreng. yaitu akronim dari kata Terbang dan Ronggeng. Setelah menajdi Bangreng tampilan pertunjukannya lebih menarik dan mengalami perkembangan juga dengan masuknya  pengaruh unsur-unsur Tayub. Konsepsi pertunjukan pada Bangreng  ini meniru yang berada dalam Tayub. Hal itu merupakan  sebuah gagasan perubahan bentuk kesenian agar  lebih menarik disajikan untuk kepentingan bersama.
Bangreng merupakan bentuk kesenian baru yang berkembang dari kekuatan  sebelum nya sebagi sistem pola budaya yang membentuk kekuatan makna dan karakter dalam perkembangannya. Kesenian hadir sebagai bentuk ungkapan manusia untuk mewujudkan  berbagai makna-makna kualitas dalam pembentukan karakter masyarakat . Peristiwa-peristiwa budaya masyarakat menjadi wacana penciptaan sebuah budaya baru sesuai dengan makna  dan fungsi  dalam kehidupan dan struktur Kemasyarakatan.
Kehidupan para penguasa dan golongan menak merupakan bentuk akulturasi dalam kesenian Bangreng yang mempunyai kekuatan tatakrama dan aturan yang harus di taati sebagai bentuk ungkapan metode kekuasaan. Adapun pengaruh bentuk kesenian menak yang ada pada Bangreng adalah Baksaan  (nyoderan) dan tayub merupakan salah satu  ciri khas bentuk Keragaman jenis tari yang bersumber pada kesenian menak. Pola-pola gerak yang bersumber dari pola gerak Ketuk Tilu Dalam ranah tari rakyat, ketuk tilu paling dominan mempengaruhi gerak-gerak tari yang berada pada Bangreng
Berdasarkan hasil wawancara  kepada wahyudin “bahwa adanya  unsur-unsur tari Tayub pada Bangreng yaitu ketika  berawal adanya para menak yang ikut terlibat menari pada  Bangreng. Para menak tersebut sering kali meminta lagu-lagu yang berada pada tari Tayub” (Wawancara Wahyudin,2018).
Selain itu, wawancara kepada  Juju Junaedi bahwa”Di Sumedang pengaruh Tayub pada Bangreng yaitu sebagai  aktivitas  masyarakat  jelata (cacah) ataupun masyarakat yang tinggal diperdesaan , menari dalam Bangreng meniru pola-pola tari yang berada pada tari menak (tayub) maka tidak heran jika saat ini yang menari Tayub pada Bangreng bukan hanya menak saja  tetapi  masyarakat  biasapun dapat  menari Tayub” (wawancara Juju Juanedi,2018).

Sumber:
Tesis pengkajian seni oleh Sopian Hadi “Estetika Tari Pada Bangreng” Tahun 2018




JANAKA SUNDA, SENI LAWAK SUNDA

JANAKA SUNDA Ditulis oleh: Syalman Andriandani NIM: 18123036 Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, jurusan seni karawit...