Tampilkan postingan dengan label RUMPUN SENI HELARAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RUMPUN SENI HELARAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Mei 2019

SENI HELARAN SISINGAAN

Observasi Kesenian Sisingaan ( Sanggar Seni SETIAWARGI “Robot Group” )

Ditulis oleh:

Muhammad Aprilian
NIM: 18123007

Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.
Jurusan seni karawitan.


Gambar 1 (Helaran Sisingaan)

19 s/d 21 Oktober 2018
2 sampai 3 hari yang lalu tepatnya hari jumat 19 s/d 21 Oktober 2018 saya mengunjungi Sanggar Seni Robot Group di Desa Tambak mekar, Kec. Jalancagak, Subang Jawa Barat. Pada hari itu saya ditemani 2 orang untuk  mewawancarai salah satu tokoh pelestari budaya atau kesenian Sisingaan yang ada di daerah Subang Jawa Barat.

  1. BIOGRAFI
Dalam bahasa Indonesia, kata sisingaan diambil dari kata singa atau boneka yang berbentuk hewan singa atau  harimau. Karena dulunya banyak harimau di kawasan hutan perbukitan lereng timur laut Gunung Tangkubanparahu, Kabupaten Subang, Jawa Barat, tepatnya di kampung Cimaung.

Beratus tahun kemudian, Cimaung melahirkan seorang suhu seni tradisi sisingaan, dia ialah Ukat Mulyana atau sering dikenal dengan julukan ”Mang Robot”. Julukan Mang Robot diberikan warga kepada Ukat Mulyana karena keahliannya menabuh kendang pencak secara terus-menerus selama berjam-jam. Warga menyebut dia sebagai penabuh nu euweuh kacape atau ( orang yang tidak kenal lelah seperti robot).

Di sela-sela waktu senggangnya, Ukat Mulyana juga tidak kenal lelah berkeliling ke kampung-kampung di Subang untuk menyebarkan keahliannya, “ngamuridkeun”, yakni ( melatih seni sisingaan kepada para pemuda desa secara sukarela ). Maka, lengkaplah julukan Mang Robot sebagai Maestro sisingaan,

Gambar 2 (pertunjukkan sisingaan)


  1. SEJARAH SISINGAAN
Pada zaman kolonial belanda sekitar tahun 1800 wilayah Subang yang merupakan daerah perkebunan subur yang dikuasai oleh Belanda dan Inggris dengan perusahaan yang bernama P&T ( Pamanoeakan & Tjiasem ) Lands.
Kala itu, dua dimensi kekuasaan yang eksploitatif mendera rakyat Subang. Secara politis, wilayah Subang diperintah Belanda, tetapi secara ekonomi, berada di bawah kekuasaan pengusaha P&T Lands. Akibatnya, ribuan rakyat Subang, termasuk leluhur Ukat, menderita karena sumber-sumber kehidupannya terkuras kolaborasi pengusaha dan penguasa. Sekelompok seniman waktu itu melakukan perlawanan dengan membuat sisingaan atau singa-singaan.yang menggambarkan sebagai binatang buas dan jahat. Maka, mereka membuat dua boneka sisingaan yang melambangkan Singa Belanda dan Singa Inggris. Dalam setiap pergelaran, kedua patung singa itu ditumpangi anak-anak.
Simbolisasi ini merupakan pesan bahwa generasi yang akan datang harus mampu ”menunggangi singa-singa” itu, tidak sebaliknya seperti para orangtua mereka. Oleh karena itu, hingga kini dalam setiap pergelaran sisingaan selalu ditampilkan dua patung singa yang ditumpangi anak-anak.

  1. PERTUNJUKAN SISINGAAN
Pertunjukan sisingaan diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok. Setelah pemimpin kelompok memberikan kata sambutan, barulah anak yang akan yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki boneka singa. Selanjutnya, alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu-lagu yang berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan. Kemudian, sejumlah 8 orang pemain akan mulai menggotong dua buah boneka singa (satu boneka digotong oleh 4 orang).
Setelah para penggotong boneka singa siap, maka sang pemimpin akan mulai memberikan aba-aba agar mereka mulai melakukan gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. Para penggotong boneka itu segera melakukan gerakan-gerakan akrobatis yang cukup mendebarkan.
Gerakan-gerakan tarian yang biasa dimainkan oleh para penggotong boneka singa tersebut adalah: ( igeul ngayun glempang, pasang/kuda-kuda, mincid, padungdung, gugulingan, bangkaret, masang, sepakan dua, langkah mundur, kael, ewag, jeblang, depok, solor, sesenggehan, genying, putar taktak, nanggeuy singa, angkat jungjung, ngolecer, lambang, pasagi tilu, melek cau, nincak rancatan, dan kakapalan. )

Sedangkan, lagu-lagu yang dimainkan oleh juru kawih untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian Ketuk Tilu, Doger, dan Kliningan, seperti : ( Keringan, Kidung, Titipatipa, Gondang, Kasreng, Gurudugan, Mapay Roko, Kembang gadung, Kangsring, Kembang Beureum, Buah Kawung, Gondang, Tenggong Petit, Sesenggehan, Badudud, Tunggul Kawing, Samping Butut, Sireum Beureum, dan lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet Rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dan lain sebagainya ).

Pertunjukan sisingaan ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Dan, dengan sampainya para penari di tempat semula, maka pertunjukan pun berakhir.

  1. PERKEMBANGAN
Di Kabupaten Subang, sisingaan tumbuh dan berkembang karena apresiasi masyarakat masih tinggi. Seni ini biasanya ditanggap (diundang) oleh keluarga yang menyelenggarakan hajat khitanan untuk anak-anaknya. ”Kalau anak dikhitan, rasanya kurang sempurna hajatannya apabila tidak nanggap sisingaan,” ujar Teguh Meinanda (56), tokoh masyarakat Desa Tambakmekar. Oleh karena itulah pada musim khitanan, biasanya pada bulan Islam, Rayagung (Zulhijah) dan Maulud, grup-grup sisingaan Subang sedang marema atau banyak undangan.
Di samping hari-hari besar kenegaraan, setiap minggu pada musim ramai itu Lingkung Seni Setiawargi bisa tampil dua kali di tempat berbeda. Ukat Mulyana biasanya membawa 25 personil, Sekali tampil, setiap anak buahnya rata-rata mendapat honor Rp 50.000 per/orang. Sebagai pimpinan rombongan, Ukat mendapat tiga kali lipatnya ditambah sewa sound system Dll.

Tarif undangan sisingaan rata-rata Rp 3 juta s/d Rp 5 juta per/panggung bagaimana banyak atau tidaknya sisingaan yang digunakan ”Adakalanya (kami) dibayar lebih, tetapi ada juga yang kurang dari itu. Kami biasanya maklum saja jika kekurangannya dibayar cap nuhun,” seloroh Ukat. Kekurangan bayaran itu akan sirna oleh keharuan yang tak ternilai setelah Ukat melihat keluarga yang punya hajat bahagia dan bangga bisa menggelar sisingaan.



Sumber foto:
Giant maeztozo

Senin, 13 Mei 2019

TARI UMBUL DARI KAB. SUMEDANG

TARI UMBUL


Ditulis oleh:

Adi trisampurno
NIM : 18123013
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung 
Jurusan seni karawitan


Gambar 1 (pergelaran tari umbul)

Seni Tari Umbul merupakan bentuk kesenian daerah  Situraja Utara Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tari umbul merupakan suatu jenis tarian yang dilakukan oleh tua ataupun muda, yang para pelakunya berperan khusus sebagai penari dan nayaga atau disebut pangrawit.
Tarian tersebut dipadukan dengan karawitan sehingga perpaduan tersebut merupakan suatu kesenian yang sudah lama dikenal terutama di daerah Situraja  Utara Kabupaten Sumedang.
Seni Tari Umbul adalah salah satu jenis kesenian rakyat yang dimana tari rakyat itu tidak ada penciptanya. Di dalam karya seni yang sifatnya tradisional, biasanya selalu kesulitan untuk mengetahui siapa yang menjadi penciptanya. Terjadinya hal ini disebabkan karya seni tradisional merupakan karya bersama maka wajar saja seandainya di dalam karya seni tersebut terdapat idiom atau ciri-ciri dari unsur seni tradisional lainnya. Kenyataan bahwa agak sukarnya mencari pencipta sebuah kesenian tradisional menimpa pula pada tari umbul ini meskipun menurut beberapa sesepuh tari umbul di Sumedang mengakatakan,bahwa yang menciptakan tari umbul ini adalah Bapak Sahri dari kampung Babakan Pasantren, Situraja Utara.
Tetapi setelah di telaah ternyata ia hanya mengubah tari umbul tersebut, yang idiom-idiom geraknya berasal dari tari umbul yang ada di Cirebon ketika Pak Sahri menonton tari umbul tersebut.sehingga ia mencoba untuk menyusun kembali gerakan-gerakannya.
Gambar 2 (busana tari umbul)

Tokoh pendukung dengan tumbuh adanya kesenian rakyat yaitu Tari Umbul diawali oleh Bapak Sahri di kampung babakan pasantren desa Situraja Utara Kabupaten Sumedang, yang bertindak sebagai pimpinannya, sedangkan disamping bapak Sahri banyak lagi pendukung lainnya yang terdapat di dalam rombongan ini antara lain yaitu sebagai penari Eruk, Enjum, Eem, Ungki, Ninik (sebagai penari bodor). Sebagai penayaga Endin, Wikanta, Sahri, Memo, Ahya, Santawi, Rasim.
Tari Umbul ternyata adanya keterangan ada bodor tetapi yang di maksud bodor disini merupakan bodor dalam gerakannya.
Pada umumnya hampir seluruh tarian tradisi selalu memakai musik atau karawitan sebagai pengiringnya, begitu pula Tari Umbul. Tari umbul diiringi dengan empat dog-dog yang terdiri dari satu tilingtingtit, satu tong, satu jongjrong, satu jedur atau badublag, dapat ditambah dengan tarompet.
Tari Umbul merupakan kesenian tradisional yang telah memiliki susunan gerak. Adapun gerakan yang terdapat pada Tari umbul ini ialah sembahan, olah bahu, tolak pinggang, rengge sujudan, olah bahu geber atas, olah dada atas, tolak pinggang atas, rengge rukuan, sabetan, tumpangan, oray-orayan. Pola gerak yang ada pada Tari Umbul ini bersifat sederhana, di dalam susunan geraknya merupakan pengulangan dari gerak-gerak khusus.
Tata rias dan busana pada Tari Umbul sangat sederhana diantaranya kacamata hitam, baju kebaya, kain panjang atau samping, dan sampur atau selendang. Sedangkan rias yang dipergunakan Tari Umbul dipergunakan secara sederhana yaitu rias cantik.
Pertunjukan Tari Umbul digunakan sebagai hiburan untuk pawai atau arak-arakan dalam rangka memperingati hari besar  nasional yaitu 17 agustus. Dan sering juga diperlombakan yang iikuti oleh anak-anak maupun remaja dan ibu-ibu. Tari Umbul juga telah masuk dalam Rekor Muri oleh peserta terbanyak untuk memperkenalkan tari tradisional Sumedang kepada generasi muda yang diikuti oleh 3000 lebih penari yang dilaksanakan di Alun-alun Sumedang pada tanggal 20 Mei 2012.



Sumber :
Skripsi tinjauan deskriptif tentang tari umbul oleh Euis Neti Akademi Seni Tari Indonesia 1986

Kamis, 09 Mei 2019

SENI BUROK

KESENIAN BUROK
penulis :
Benny Herdian Hidayat
NIM : 18123017
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan



Gambar 1 (boneka burok)

Burok adalah salah satu seni helaran yang sangat popular di Cirebon. Menurut tuturan para seniman nya (terutama didesa baku samben kec.babakan, kab.cirebon), Burokan muncul sekitar tahun 1934. Seorang penduduk desa kalimaro kec.babakan, bernama Kalil, membuat  suatu kreasi baru seni badawang (boneka-boneka berukuran besar), yaitu kuda terbang burok (dari kata buraq, yang secara tradisional diyakini oleh kaum Muslim sebagai kendaraan yang dipakai oleh Nabi Muhammad SAW ketika Isra’-Mi’raj). Konon, kreasi ini diilhami oleh “cerita rakyat” yang hidup di kalangan masyarakat islam tentang perjalanan Isra’-Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa terus ke langit tujuh dengan menunggang hewan (mirip kuda) besayap yang disebut burok. Masyarakat Cirebon mengenal sosok burok ini dari lukisan kaca yang pada waktu itu cukup popular dan dimiliki oleh bayak warga masyarakat di Cirebon lukisan kaca tersebut berupa kuda sembrani (bersayap) dengan wajah putri cantik yang putih dan bercahaya. Dengan demikian orang Cirebon tidak merasa asing dengan sosok burok ini. Hasil kreasi Kalil ini kemudian diberi nama “Burok”, sedangkan keseniannya di beri nama Genjring Burok. Dalam perkembangannya genjring burok semakain digemari oleh masyarakat bahkan tersebar keberbagai daerah diluar Cirebon, seperti Losari Brebes, Banjarharja, Karang Suwung, Ciledug, Kuningan, dan Indramayu. Saat ini perkumpulan kesenian burokan yang menonjol adalah Genjring Burok Gita Remaja dari desa Pakusamben pimpinan Mustofa. Perlu dicatat bahwa mustofa bukanlah keturunan Kalil.
Gambar 2 (wajah perempuan dalam boneka burok)

Burokan biasanya di tampilkan dalam berbagai perayaan, seperti hataman, sunatan, perkawinan, marhabaan, dan lain-lain. Pertunjukan dilakukan mulai pagi hari, berkeliling kampung disekitar lokasi perayaan. Selain burok , terdapat boneka lain yang di arak : gajah, macan, dan sebagainya. Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya disediakan sesajen lengkap sebagai  syarat. Kemudian ketua rombongan memeriksa semua perlergkapan pertunjukan sambil membaca doa.
Pertunjukan dimulai dengan tatalu laluburokan bergerak perlahan dengan lantunan  Asroqol (nama lagu ini adalah awal solawat badar bagi Nabi dan Barzanji). Pada saat lagu itu dilantunkan, rombongan pertunjukan masih berjalan di tempat. Setbanyak yang menonton , rombongan baru bergerak. Ketika burokan berjalan, penonton boleh turut serta menari berbaur dengan para pelaku. Dalam acara sunatan, anak sunat dinaikan keatas burok dengan pakaian sunat lengkap. Sedangkan anak-anak lainnya yang ingin naik boneka gajah, macan, kuda, kera, dan lain-lain, di  pungut bayaran antara Rp.500,00-Rp.100,00
Pada saat arak arakan, lagu nyapun berubah (tidak lagi lagu Asroqol ) tetapi  lagu-lagu tarling, dangdut, jaipongan, seperti limangtaun, sego jamblang, jam sijji bengi , sandal barepan, garet bumi, sapayung loroan, kacang asin, tilil kombinasi, bahkan lagu-lagu yang sedang popular, misalnya pemuda idaman, melati, mimpiburuk, goyang dombret dan lain-lain. Sepanjang pertunjukan burokan, karena rupa boneka burok yang cantik dan karena gerakan kaki para pelaku yang lincang mengikuti irama musik, pertunjukan ini menjadi pusat perhatian masyarakat.
Music pengiring burokan biasanya terdiri dari tiga dogdog (besar, sedang , kecil), empat genjring, simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Dalam pertunjukan , alat music tersebut berfingsi sebagai pengiring tarian dan nyanyian. Adapun penyanyinya terdiri dari pria atau wanita. Mereka bernyanyi bersama atau bergiliran tergantung pada karakter  lagu yang dibawakan.
Adapun perlengkapan  pertunjukan burokan terdiri dari sepasang boneka burok yang biasanya dimainkan oleh 4 orang (2 di depan 2 di belakang), beberapa boneka (badawang) berbentuk binatang : gajah, kera, macan, kuda, dan kadang kadang ditambah badut yang memakai kostum lucu.
Makna tersembunyi dibalik pertunjukan burokan antara lain:
  1. Sebagai tanda sukur orang yang menanggap karena burokan dianggap sebagai seni pertunjukan rakyat yang islami.
  2. Makna sinkretis tradisi badawang yang melihatnya (badawang adalah boneka-boneka yang muncul dari cara berpikir mistis totemistik yang berasal dari hubungan arkaistik sebelum islam, yangkini menjadi agama dominan di cirebon)
  3. Makna akulturasi bagi benda yang bernama burok dari kawasan Timur Tengah yang kisah nya terkait dengan Isra’-Mi,raj Nabi Muhamad  SAW
  4. Makna universal, karena sosok hewan seperti burok dapat ditemukan dalam mitos bangsa-bangsa tertentu, misalnya di yunani, terdapat pula mahluk seperti burok, yakni centaur (mahluk berwujud mirip kuda dengan tubuh dari dada sampe kepala berwujud seperti manusia) yang dalam dunia perbinatangan sebagai rasi sagitarius. Di mesir, jenis mahluk yang mirip dengan itu adalah sphinx

Sumber tulisan : 
Buku deskripsi kesenian Jawa barat

Senin, 06 Mei 2019

MEMENIRAN SENI BONEKA RAKSASA DARI CICALENGKA


MEMENIRAN (BADAWANG)


Penulis:

Moch. Restu A.S
NIM 18123007

Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan


gambar 1 (boneka badawang)


Keberadaan memeniran atau badawang dibeberapa tempat di jawa barat sudah berlangsung lama. Seni yang meniru tradisi totemistik agama asli Indonesia ini, menurut Ensiklopedi Sunda, di artikan sebagai orang-orangan bertubuh tinggi-besar terbuat dari kerangka bambu, di beri pakaian, dan diusung oleh seseorang yang berada  di dalamnya sehingga dapat berjalan dan digerak-gerakkan mengikuti irama tetabuhan. Memeniran biasanya ditampilkan dalam iring-iringan (pawai) untuk meramaikan pesta-pesta umum maupun pesta-pesta tradisional keluarga, seperti perkawinan atau khitanan. Di Jakarta, memeniran dinamakan ondel-ondel.

Kapan istilah “memeniran “ muncul tidak diketahui. Namun, apabila dilihat wujud badawang yang tinggi besar, memeniran kemungkinan diambil dari kata menir (meneer = tuan;bahasa Belanda), karena sosok badawang yang digendong berpakaian perlente mirip seorang tuan Belanda. Adapun orang yang menggendong berpakaian sederhana. Kesenian memeniran biasanya ditampilkan sebagai kelengkapan helaran pertunjukan benjang dan arak-arakan lainnya. Dalam perkembangannya, boneka memeniran sering berjumlah leboh dari empat dan variasi kostum boneka yang digendongnya pun bermacam-macam: selain profil beberapa tokoh panakawan seperti Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng juga tokoh-tokoh orang kaya, bangsawan, orang asing, militer, dan lain-lain. Atraksi yang paling menarik dari memeniran adalah orang yang digendong (yang notabene seorang manusia) dapat bergerak bebas, menari, bersorak, bermain kipas, dan sebagainya, sedangkan si penggendong hanya diam saja karena dia hanyalah boneka.

Musik pengiring kesenian ini sama dengan pengiring musik pencak silat, kadang-kadang hanya di tambah dogdog dan bedug saja. Demikian juga lagu-lagu memeniran sama dengan lagu pengiring pencak silat, seperti Golempang, Padungdung, dan lain-lain. Hanya saja, dewasa ini, lagu-lagu kawih dipakai pula, seperti Rayak-rayak, Kembang Bereum, di samping lagu-lagu dangdut yang tengah popular.

Ada beberapa makna yang terkandung dalam kesenian memeniran: makna mistis, karena memeniran merupakan gambaran tradisi totemistik masyarakat agama asli Indonesia, walaupun sudah mengalami perubahan menjadi bentuk-bentuk yang kocak dan lucu, seperti tokoh-tokoh panakawan dan lain-lain;  makna teatrikal, karena tampilan sejumlah memeniran dan badawang lainnya sangat tetrikal, ini disebabkan karena wujudnya yang karikatural dan berukuran jauh lebih besar dari ukuran manusia biasa; makna universal, karena bentuk-bentuk yang mirip memeniran atau badawang terdapat pula pada setiap etnik dan bangsa di dunia.

Adapun menurut Pa Ozon pelaku seni asal cicalengka, Pada awalnya seni badawang muncul di daerah dampit cicalengka sekitar tahun 83, seniman asal dampit tersebut pada mulanya menciptakan Badawang untuk memeriahkan  helaran 17 agustus, atau biasa di sebut arak-arakan.

Mengapa di sebut Badawang? Karena memiliki tubuh  besar dan tinggi, tingginya bisa mencapai hampir 4 meter, lingkaran badan nya kurang lebih 1,5 meter, wajahnya menyerupai buta atau genderewo bertaring panjang berambut injuk, tetapi tidak beraturan, seperti  kepalanya kecil, tangan dan kakinya tidak pas dengan ukuran tubuhnya.

Dalam Bahasa Sunda istilah badawang kadang bersinonim dengan wujud perawakan seseorang yang “tinggi besar”, misalnya awak kawas badawang : jangkung gede teu matut, “Tubuhnya seperti badawang : tinggi besar tapi tidak pas/patut”.

Penulis : Moch. Restu A.S

Sumber  Foto : 
BUKU DESKRIPSI KESENIAN JAWA BARAT




Narasumber : Pak Ozon. KP.Malingping RT/RW 01/08 DS.Tenjolaya KEC.Cicalengka

KUDA LUMPING DESA CITANGTU KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT




Ditulis oleh:




Euis  Karmila
NIM 18123020
Mahasiswi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan


Salah satu  tempat yang masih memelihara  seni pertunjukkan  Kuda Lumping   adalah desa Citangtu, yang merupakan  daerah yang  berada di wilayah  sebelah timur   kabupaten Kuningan. Di desa Citangtu, seni Kuda  Lumping masih  terpelihara  walaupun  frekuensi pementasannya  sangat berkurang  karena jarang  ada yang menanggap.  Hal ini disebabkan  biaya pertunjukkannya cukup  mahal untuk  ukuran daerah  yang umumnya pedesaan, di samping  minat serta  respon masyarakat  terhadap kesenian tradisi sudah tergeser  oleh kesenian-kesenian  yang kurang mendapat  panggilan otomatis  menjadikan  kesenian ini jarang  dipertontonkan  dan sekaligus  kurang  berkembang  karena  tersisih oleh  kebutuhan kehidupan.
Sebenarnya  seni kuda  lumping  adalah kesenian  tradisional yang menarik  untuk ditonton  karena  dirasakan  masih adanya  aura dari dimensi kesadaran dan ketidak sadaran. Pertunjukkan Kuda Lumping ini dari awal sampai akhir ditengarai adanya peristiwa-peristiwa  trance ( kesurupan : Sunda ) dari para pemaénnya  sehingga mampu  melakukan hal-hal yang tidak lazim dalam kehidupan sehari-hari.  Oleh karenanya  dalam penampilan  seni Kuda Lumping  masih  ada pesona-pesoa  dan daya tarik  yang ditunggu-tunggu para penonton, baik anak-anak, remaja  maupun orang tua  berupa makan  pare atau padi,  mengupas  keplapa dengan gigi menginjak  bara api  dan peristiwa  trance lainnya, seperti menirukan suara-suara karuhun  atau nenek moyang/para orang tua  yang sudah meninggal.



Gerakan- gerakan tari dalam seni Kuda Lumping Citangtu merupakan  gerak tidak berpola, karena pamaén Kuda Lumping  bergerak bebas  namun tetap seirama dengan musik  yang ditabuh. Dalam  hal penyajiannya  Kuda Lumping  yang berada  di Desa Citangtu  ini memiliki  keunikan tersendiri , hal ini dikarenakan pengaruh unsure magis  yang lebih  diberikkan oleh sesepuh kepada pamaén dengan maksud  untuk lebih memperkaya unsur pertunjukkannya. Oleh Karena itu  pamaén kuda Lumping  harus dibimbing  oleh beberapa orang pangaping  karena kalau tidak bisa lari kemana saja apabila lepas dari pangapingnya. Jadi disini pangaping harus lebih jeli dan waspada. Disamping itu keunikan lainnya dari pamaékuda lumping  ini  yaitu bisa berdiri tegak  sambil bergerak  diatas punggung pendamping maupun  telapak  kaki  pendamping  yang ditegakkan sambil  terlentang dibawah  atau juga ibu jari  pamaén kuda  lumping yang  dimasukkan ke mulut pendamping.
Pemaén Kuda Lumping ada 3 orang, terdiri  dari 2 orang yang masih muda  dan 1 orang sudah tua, yang merupakan  generasi pendahulu dan belum  ada yang bisa menggantikannya. Seni Kuda Lumping  Citangtu bisa dipertunjukkan atau dipergelarkan di lapangan atau tempat yang luas, karena  disini memerlukan keleluasaan  gerakan pamaén terutama kuda Lumping   yang tidak dibatasi dengan gerakan setempat. Pergelaran  atau pertunjukkan kuda Lumping  biasanya  dalam acara  hajatan atau acara-acara lain.  Ketika dalam acara hajatan biasanya  diengkapi dengan pendukung lain, misalnya  Kuda Renggong, Badut, Bodor,  anak sunat  dan pertunjukkannya hanya  untuk menghibur  kesenian daerah  sendiri,  karena kesenian tradisional merupakan asset budaya bangsa.


Fungsi dari kesenian kuda lumping sendiri selain sarana sebagai hiburan  yaitu sebagai alat komunikasi  karena dapat menyatukan masyarakat dari satu kampug dengan kampong lain. Dengan kata lain kuda lumping mampu  mengumpulkan masa, sehingga banyak warga yang berdatangan hanya ingin menonton pertunjukkan kuda lumping.
Musik yang mengiringi kuda lumping  biasanya genjring, kenong, kendang, tarompet, kecrek  goong, dan dog-dog.


Sumber dan Dokumentasi :
Skripsi  Sumarni (STSI) Bandung  2008, Seni Tradisional Kuda Lumping  Desa Citangtu Kabupaten Kuningan



Senin, 29 April 2019

KUDA RENGGONG DARI SUMEDANG JAWA BARAT

KUDA RENGGONG 

Ditulis oleh:
Sania Putri Oktaviani
NIM 18123005
Mahasiswi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan




Gambar 1 (kuda renggong lengkap sedang diarak bersama pengantin sunat)

Kuda renggong merupakan salah satu jenis kesenian khas masyarakat sunda Jawa Barat, yang mana merupakan suatu helaran bagi masyarakat. Biasanya kuda renggong diadakan dalam acara khitanan maupun menyambut tokoh-tokoh penting. Biasanya terdapat satu sampai empat ekor kuda yang menari mengikuti irama musik. Kesenian kuda renggong berasal dari sebuah desa yang bernama Desa Buahdua, Sumedang, Jawa Barat. 

Asal mula kesenian kuda renggong, menurut salah satu seniman Kuda Renggong yang bernama Ki Encep Suhara mengungkapkan bahwa kuda renggong lahir ketika masa kepemimpinan bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja yang memiliki seekor kuda, kemudian kuda tersebut dipercayakan kepada salah satu anak buahnya. Kuda tersebut dibebaskan di lahan yang luas dan kemudian dilatih oleh Aki Sipan, kuda tersebut dilatih agar mampu menari. Setelah kuda tersebut dilatih oleh Aki Sipan, kuda tersebut ditampilkan di kediaman Pangeran Aria Soeria Atmadja dalam acara khitanan cucunya. Akhirnya kuda yang menari tersebut dinamakan Kuda Renggong yang mengambil dari metatesis kata “Ronggeng” yang berartikan kamonesan (keterampilan) cara kuda berjalan yang mengikuti irama musik. 

Bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja sangat menyukai penampilan kuda renggong tersebut, hal ini yang menyebabkan masyarakat terus mengembangkan kuda renggong yang akhirnya menjadi sebuah kesenian sunda. Masyarakat mulai mengikuti kesenian kuda renggong ini hingga sekarang. Tidak hanya di Desa Buahdua saja, kini kesenian kuda renggong mampu disaksikan diberbagai daerah di Jawa Barat. Pertunjukan kesenian kuda renggong dilakukan dengan cara berkekeling di sekitaran wilayah tempat acara khitan maupun penyambutan tokoh penting dilakukan. Para pemain kuda renggong biasanya orang dewasa dan dikumpulkan menjadi sebuah kelompok, yang memiliki perannya masing-masing misalnya sebagai pemain musik, sebagai pendamping kuda ketika berkeliling dan juga sebagai rekan silat kuda. 

Gambar 2 (kuda renggong beserta pakaiannya yang lengkap)

Selain berkekeliling kampung dan menari, kuda renggong juga menampilkan sebuah atraksi dimana ada satu orang yang berkelahi atau dengan nama lain “Silat” dengan kuda, yang sebelumnya kuda tersebut dilatih agar tidak melukai orang yang menjadi rekan silatnya. Pertunjukan kuda renggong biasanya diawali dengan musik pembuka yang berjudul kembang gadung. Sebelumnya kuda disiapkan terlebih dahulu, seperti menggunakan pakaian khas kuda renggong yang memiliki warna-warna yang mencolok dan juga dilengkapi dengan 5 jenis aksesoris kuda, diantaranya:
1. Siger yang dipakai di kepala kuda, 
2. Apok punduk yang dipakai dibagian pundak kuda, 
3. Apok dada yang digunakan di dada kuda, 
4. Ebeg yang digunakan di pinggang kuda dan ditambahkan sela yaitu tempat duduk anak yang dikhitan dan dipasang juga umbul-umbul sebagai hiasan dan 
5. Bujur kuda digunakan di bagian bokong kuda. 

Sesudah kuda dipakaikan aksesoris tersebut, kemudian anak yang dikhitan memakai baju yang khas yang disebut baju Budak Karya (Baju Gatot Kaca) dan dinaikkan keatas kuda.


Gambar 3 (seseorang sedang melatih kuda renggong)

Kuda renggong mengelilingi halaman rumah hajat sebelum berjalan mengelilingi kampung/desa ( arak-arakan ). Kuda renggong biasanya diikuti oleh masyarakat yang ikut berjoget dan juga diikuti oleh delman yang dihias dari belakang. Delman tersebut dinaiki oleh keluarga yang dikhitan ataupun kerabat yang membantu acara tersebut. Waditra yang digunakan dalam kesenian kuda renggong terdiri dari, tambur, bedug, kecrek, goong kecil, goong besar, terompet, dua buah bonang dan accu mobil untuk sound. Musik tersebut dinamakan musik Tanji. Hingga zaman sekarang, kesenian kuda renggong masih diminati oleh masyarakat sunda. Namun terdapat perubahan dalam cara pertunjukannya, misalnya dalam lagu yang dibawakan untuk mengiringi kuda renggong, dahulu musik yang dibawakan seperti buah kawung, kembang gadung dan yang lainnya, tapi di masa sekarang lagu-lagu yang dibawakan ketika berkeliling cenderung menggunakan lagu-lagu bergenre dangdut maupun pop sunda. 

Sumber : 
Narasumber Yoga Pratama
salah satu seniman Kuda Renggong asal daerah Cicalengka, Jawa Barat.
lingkung seni Satria Muda, Cicalengka, Kab. Bandung Jawa Barat

Foto : 
Foto 1 http://renggongsumedang13.blogspot.com/2016/05/sejarah-kuda-renggong.html 
Foto 2 Diambil di Kp. Pamoyanan, Cicalengka, Jawa Barat ( di kediaman narasumber)
Foto 3 Diambil di Kp. Pamoyanan, Cicalengka, Jawa Barat ( di kediaman narasumber)

JANAKA SUNDA, SENI LAWAK SUNDA

JANAKA SUNDA Ditulis oleh: Syalman Andriandani NIM: 18123036 Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, jurusan seni karawit...