Kamis, 09 Mei 2019

SENI BUROK

KESENIAN BUROK
penulis :
Benny Herdian Hidayat
NIM : 18123017
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan



Gambar 1 (boneka burok)

Burok adalah salah satu seni helaran yang sangat popular di Cirebon. Menurut tuturan para seniman nya (terutama didesa baku samben kec.babakan, kab.cirebon), Burokan muncul sekitar tahun 1934. Seorang penduduk desa kalimaro kec.babakan, bernama Kalil, membuat  suatu kreasi baru seni badawang (boneka-boneka berukuran besar), yaitu kuda terbang burok (dari kata buraq, yang secara tradisional diyakini oleh kaum Muslim sebagai kendaraan yang dipakai oleh Nabi Muhammad SAW ketika Isra’-Mi’raj). Konon, kreasi ini diilhami oleh “cerita rakyat” yang hidup di kalangan masyarakat islam tentang perjalanan Isra’-Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa terus ke langit tujuh dengan menunggang hewan (mirip kuda) besayap yang disebut burok. Masyarakat Cirebon mengenal sosok burok ini dari lukisan kaca yang pada waktu itu cukup popular dan dimiliki oleh bayak warga masyarakat di Cirebon lukisan kaca tersebut berupa kuda sembrani (bersayap) dengan wajah putri cantik yang putih dan bercahaya. Dengan demikian orang Cirebon tidak merasa asing dengan sosok burok ini. Hasil kreasi Kalil ini kemudian diberi nama “Burok”, sedangkan keseniannya di beri nama Genjring Burok. Dalam perkembangannya genjring burok semakain digemari oleh masyarakat bahkan tersebar keberbagai daerah diluar Cirebon, seperti Losari Brebes, Banjarharja, Karang Suwung, Ciledug, Kuningan, dan Indramayu. Saat ini perkumpulan kesenian burokan yang menonjol adalah Genjring Burok Gita Remaja dari desa Pakusamben pimpinan Mustofa. Perlu dicatat bahwa mustofa bukanlah keturunan Kalil.
Gambar 2 (wajah perempuan dalam boneka burok)

Burokan biasanya di tampilkan dalam berbagai perayaan, seperti hataman, sunatan, perkawinan, marhabaan, dan lain-lain. Pertunjukan dilakukan mulai pagi hari, berkeliling kampung disekitar lokasi perayaan. Selain burok , terdapat boneka lain yang di arak : gajah, macan, dan sebagainya. Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya disediakan sesajen lengkap sebagai  syarat. Kemudian ketua rombongan memeriksa semua perlergkapan pertunjukan sambil membaca doa.
Pertunjukan dimulai dengan tatalu laluburokan bergerak perlahan dengan lantunan  Asroqol (nama lagu ini adalah awal solawat badar bagi Nabi dan Barzanji). Pada saat lagu itu dilantunkan, rombongan pertunjukan masih berjalan di tempat. Setbanyak yang menonton , rombongan baru bergerak. Ketika burokan berjalan, penonton boleh turut serta menari berbaur dengan para pelaku. Dalam acara sunatan, anak sunat dinaikan keatas burok dengan pakaian sunat lengkap. Sedangkan anak-anak lainnya yang ingin naik boneka gajah, macan, kuda, kera, dan lain-lain, di  pungut bayaran antara Rp.500,00-Rp.100,00
Pada saat arak arakan, lagu nyapun berubah (tidak lagi lagu Asroqol ) tetapi  lagu-lagu tarling, dangdut, jaipongan, seperti limangtaun, sego jamblang, jam sijji bengi , sandal barepan, garet bumi, sapayung loroan, kacang asin, tilil kombinasi, bahkan lagu-lagu yang sedang popular, misalnya pemuda idaman, melati, mimpiburuk, goyang dombret dan lain-lain. Sepanjang pertunjukan burokan, karena rupa boneka burok yang cantik dan karena gerakan kaki para pelaku yang lincang mengikuti irama musik, pertunjukan ini menjadi pusat perhatian masyarakat.
Music pengiring burokan biasanya terdiri dari tiga dogdog (besar, sedang , kecil), empat genjring, simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Dalam pertunjukan , alat music tersebut berfingsi sebagai pengiring tarian dan nyanyian. Adapun penyanyinya terdiri dari pria atau wanita. Mereka bernyanyi bersama atau bergiliran tergantung pada karakter  lagu yang dibawakan.
Adapun perlengkapan  pertunjukan burokan terdiri dari sepasang boneka burok yang biasanya dimainkan oleh 4 orang (2 di depan 2 di belakang), beberapa boneka (badawang) berbentuk binatang : gajah, kera, macan, kuda, dan kadang kadang ditambah badut yang memakai kostum lucu.
Makna tersembunyi dibalik pertunjukan burokan antara lain:
  1. Sebagai tanda sukur orang yang menanggap karena burokan dianggap sebagai seni pertunjukan rakyat yang islami.
  2. Makna sinkretis tradisi badawang yang melihatnya (badawang adalah boneka-boneka yang muncul dari cara berpikir mistis totemistik yang berasal dari hubungan arkaistik sebelum islam, yangkini menjadi agama dominan di cirebon)
  3. Makna akulturasi bagi benda yang bernama burok dari kawasan Timur Tengah yang kisah nya terkait dengan Isra’-Mi,raj Nabi Muhamad  SAW
  4. Makna universal, karena sosok hewan seperti burok dapat ditemukan dalam mitos bangsa-bangsa tertentu, misalnya di yunani, terdapat pula mahluk seperti burok, yakni centaur (mahluk berwujud mirip kuda dengan tubuh dari dada sampe kepala berwujud seperti manusia) yang dalam dunia perbinatangan sebagai rasi sagitarius. Di mesir, jenis mahluk yang mirip dengan itu adalah sphinx

Sumber tulisan : 
Buku deskripsi kesenian Jawa barat

Senin, 06 Mei 2019

TARI WAYANG SUMEDANG GAYA RD. ONO

TARI WAYANG GAYA SUMEDANG
KARYA RD. ONO LESMANA KARTADIKUSUMAH

Penulis: 

Nandi Apriansah
NIM: 18123011
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan.


Gambar 1 (tari wayang jakasona)

Pertumbuhan tari di Sumedang sejak hadinya karya-karya Ono sudah menunjukkan suasana demokratis.  Artinya dalam petumbuhannya tidak terfokus pada salah satu jenis tari saja, tetapi beragam seperti Tari Keurseus, Tari Wayang, dan Tari Topeng.  Tari-Tarian itu sama-sama diayomi dan diperkenalkan kepada masyarakat.  Dengan dilatarbelakangi oleh munculnya berbagai jenis tari, para seniman Sumedang salah satunya Ono Lesmana berusaha mngembangkannya melalui pelatihan-pelatihan tari yang diselenggarakan di bawah payung lingkung seni Sekar Pusaka.
  1. Periode 1952 sampai 1987
Pada tahun 1952 karena tahun ini dianggap Tari wayang sudah tercipta. Hal ini terlihat dengan pertanda bahwa saat itu Tari Wayang mulai diajarkan kepada masyarakat.  Sedangkan tahun 197 merupakan periode terakhir dalam kehidupan sejarah berkesenian Ono, karena pada tahun ini beliau wafat.
Murid-murid yang tergabung di dalam periode ini dinilai cukup banyak dan hasil didikannya pun sangat menggembirakan.  Tari Wayang karya Ono mulai lahir pada periode kedua, adapun jenis tariannya sebagai berikut:
  1. Tari Jayengrana
Pada tahun 1942 Ono sudah merancang pembuatan Tari Jayengrana.  Setelah empat tahun (tepatnya tahun 1946) tarian ini baru terwujud secara lengkap. Tari Jayengrana ini mulai diajarkan pada tahun 1952.
  1. Tari Ekalaya
Tari Ekalaya ini diciptakan pada tahun 1954
  1. Tari Adipati Karna
Tari ini disusun pada tahun 1939 ketika Ono sedang menjabat Lurah di Kota Kulon Sumedang, dan mulai dibakukan serta diajarkan pada tahun 1955-an.
  1. Tari Anterja
Tari ini dibuat karena kebutuhan peran pada Wayang Orang dalam cerita Subadra Larung sekitar tahun 1955.  Saat itu pencipta menjabat camat di Tanjungsari Sumedang.
  1. Tari Gatotkaca
Pada tahun 1957 Ono menciptakan Tari Gatotkaca gandrung. Putri Pergiwa dan Pergiwati yang diidamkan Gatotkaca turut divisualkan dalam tarian ini
  1. Tari Yudawiyata
Tarian ini dibuat pada tahun 1957-1958.
  1. Tari Srikandi
Diciptakannya Tari Srikandi, karena adanya kebutuhan peran pada Wayang Wong sekitar tahun 1930-an.  Koreografinya pada waktu itu awalnya menggunakan tari Gawil dan baru pada tahun 1958 ada perbaikan dan pembakuan.
  1. Tari Gambir Anom
Untuk mewujudkan tarian secara utuh dan maksimal, maka pada tahun 1959 Tari Gambir Anom ini ditata lagi dan dibakukan koreografinya.
  1. Tari Jakasona
Tari ini diciptakan pada tahun 1947-1948, untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar di lingkungan seninya.  Namun demikian, tarian ini baru diterapkan kepada peserta kursus pada tahun 1960-an.
  1. Tari Gandamanah
Tari Gandamanah dibuat sekitar tahun 1960-an untuk kepentingan mengajar.
Pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1957 Ono sering dipanggil ke Istana Negara untuk mempertunjukkan karya-karyanya.  Para penari yang sering mengisi dan menyambut tamu dari luar negeri di Istana Negara adalah Emin, Oja Tuti, dan Sukma.  Selain itu, Ono juga pernah mengajar tari di kelompok seni Ekayana yang dipimpin oleh Duyeh di Jakarta atau pada saat itu salah seorang pelatih Ekayana sengaja datang ke Sumedang untuk menyadap tari karya Ono.  Maka dari itu sebagian masyarakat Jakarta ikut terimbas dan menyenangi tari karya Ono dengan jalan ikut mempelajarinya.  Pada zaman keemasannya sekitar tahun 1960-1970 tari-tarian Ono menyebar ke seluruh pelosok Sumedang.  
Gambar 2 (tari karya ono Lesmana)

Kemudian dalam rangka penyebaran dan perkenalan tari hasil karyanya, Ono sering menjadi duta seni dalam berbagai acara.  Dalam acara Muhibah Siliwangi yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 1962 disajikan pula Tari Jayengrana.  Selepas itu pada tahun berikutnya yaitu tahun 1970 Ono mengikuti Expo ke Jepang dengan materi Tari Gatotkaca dan Tari Jayengrana, yang dibawakan oleh Elia Marliah dengan kawan-kawan.  Tari Jayengrana yang dibawakan oleh Ina, ikut memeriahkan acara di Vancouver sekitar tahun 1980 bersama-sama dengan kelompok seni tari Indrawati Lukman.
  1. Periode 1987 sampai sekarang.
Setelah Ono Lesmana meninggal dunia pada tahun 1987, Padepokan Sekara Pusaka dipimpin oleh R. Effendi Lesmana, anak kedua Ono yang hingga saat ini masih terus berkiprah dalam melanjutkan jejak langkah sang ayah.  Disamping itu murid-murid Ono seperti Ade Rukasih yang di masa mudanya cukup potensial, akhirnya dipercaya untuk melatih tari karya-karya Ono di Museum Sumedang di bawah naungan Dangiang Kutamaya, dan masih berlangsung hingga saat ini.  Museum sumedang tidak hanya mengoleksi barang-barang antik yang mengandung nilai kesejarahan, namun juga unsur seni, khususnya tari yang pernah berkembang sehingga berbagai lapisan masyarakat Sumedang merasa tidak asing lagi,  dengan tarian Ono.  Setiap hari Minggu gemuruhnya iringan tari selalu terdengar seakan tak pernah berhenti dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun.
Kita perlu berbangga hati Tari Wayang Ono (salah satunya Tari Jayengrana)  telah dibawa oleh seorang keturunan Filipina yang bekerja di Hawai.  Tari tersebut diajarakan di Universitas Hawai oleh Benyamin.  Kemudian Madoka yang berasal dari Jepang antusias dalam mempelajari Tari Jayengrana untuk dijadikan bahan ajar di sana.  Berkat adanya pengakuan dari berbagai pihak tai-tari karya Ono hingga saat ini masih hidup walaupun perkembangannya tidak sepesat dahulu.  
  1. Tari Wayang Sumedang Karya Ono Lesmana.
Tari Wayang Sumedang diproduksi oleh seorang tokoh yaitu Ono Lesmana, sehingga ciri khas individu sangat nampak sekali.  Adapun produk tari wayang dari Sumedang akan dirinci sebagai berikut:
  1. Tari Jakasona berkarakter satria ladak.
  2. Tari Ekalaya berkarakter satria ladak.
  3. Tari Jayengrana berkarakter satria ladak
  4. Tari Adipati Karna berkarakter satria ladak.
  5. Tari Yudawiyata berkarakter satria ladak.
  6. Tari Gambir Anom berkarakter satria ladak.
  7. Tari Srikandi berkarakter putri ladak.
  8. Tari Gatotkaca berkarakter monggawa lungguh.
  9. Tari Antareja berkarakter monggawa lungguh.
  10. Tari Gandamanah berkarakter monggawa dangah.
Gambaran mengenai Tari Wayang Sumedang secara umum, terlihat di bawah ini dan akan dipaparkan lebih rinci berdasarkan bentuknya yaitu:
  1. Tingkatan Karakter
Di Sumedang Tari Wayang berkarakter satria ladak merupakan prosentase terbanyak jika dibandingkan dengan daerah lainnya.  Ciri karakter tersebut menjadi sesuatu yang khas bagi Ono (secara pribadi) dan Sumedang (secara kelompok), adapun rinciaya sebagai berikut: Putri ladak; satu tarian, putra ladak; enam tarian, monggawa lungguh; dua tarian, monggawa dangah; satu tarian.
  1. Bentuk Koreografi
  1. Penyajian
Berdasarkan daftar tarian yang telah dipaparkan diatas, penyajian Tari Wayang Sumedang terbagi menjadi; 1 tarian disajikan dalam bentuk berpasangan yakni Tari Yudawiyata dan 9 tarian lainnya dibawakan dalam bentuk tunggal.
  1. Perang dan non perang
Dengan melihat bentuk penyajian seperti diatas hubung kaitnya dengan bentuk perang dan non perang, maka bila disimpulkan  erolehan jumlahnya akan sama yaitu satu tari perang seperti Tari Yudawiyata dan sembilan lainnya termasuk tari non perang.
  1. Jenis Tarian
Seperti telah diuraikan pada bagian awal, bahwa jenis tarian disini merujuk pada jenis tarian berdasarkan kelamin, sementara jika memperhatikan dari segi nama tarian, sudah barang tentu hanya satu tarian yang berjenis kelamin putri yaitu Tari Srikandi, sisanya yang berjumlah sembilan tarian termasuk jenis putra.
  1. Struktur
  1. Tari Jakasona: berstruktur satu yaitu lagu panglima berpola irama sedang.
  2. Tari Ekalaya:  berstruktur dua yaitu Angle sawilet berpola irama sedang dan Angle dua wilet berpola irama cepat.
  3. Tari Jayengrana: berstruktur satu yaitu Tumenggungan sawilet berpola irama sedang.
  4. Tari Adipati Karna: berstruktur satu yaitu belenderan sawilet berpola irama sedang.
  5. Tari Yudawiyata: berstruktur dua yaitu Tumenggungan sawilet berpola irama sedang Tumenggungan kering berpola irama cepat.
  6. Tari Gambir Anom: berstruktur satu yaitu Udan Mas berpola irama sedang.
  7. Tari Srikandi: berstruktur satu yaitu Gawil Kakacangan berpola irama sedang.
  8. Tari Gatotkaca: berstruktur dua yaitu Macan Ucul sawilet berpola irama sedang, dan Macan Ucul dua wilet berpola irama cepat.
  9. Tari Antareja: berstruktur dua yaitu Tumenggungan gurudugan berpola irama cepat dan Tumeggungan sawilet berpola irama sedang.
  10. Tari Gandamanah: berstruktur dua yaitu Macan Ucul sawilet berpola irama sedang, dan Macan Ucul dua wilet berpola irama cepat.
  1.  Bentuk Koreografi
  1. Bentuk lagu
Lagu yang digunakan untuk mengiringi Tari Wayang Sumedang terdiri dari 10 (sepuluh) tarian, semuanya menggunakan lgu Sekar Alit atau sawilet.
  1. Jenis Iringan
Jenis iringan yang digunakan (semua) adalah gamelan (instrumen) dan kakawen (vokal dalang) tidak dipakai sama sekali.
  1.  Busana
  1. Sumber
Busana Tari Wayang Sumedang berbeda dengan daerah lain karena selain bersumber pada wayang golek ada pula yang bersumber pada beberapa tarian yang dibuat sendiri oleh penciptanya, seperti: Tari Jayengrana, dan Tari Jakasona.
  1. Motif hiasan dan bahan kain
Sumedang merupakan daerah transisi karena jika disebut kampung kebudayaanya sudah seperti kota, dan jika disebut kota belum seutuhnya kota.  Sumedang yang terletak antara Bandung dan Cirebon mendapat pengaruh sangat besar dari kedua kota ini terutama pada perkembangan seni tari.  Hal ini terlihat pada busana tari yang sudah menggunakan hiasan yang kaya dengan warna, begitu juga dengan bahannya yang sudah memakai beludru.
  1. Rias
  1. Sumber rias Tari Wayang di Sumedang mengacu pada tata rias Wayang Golek.
  2. Bahan atau alat untuk rias wajah sudah memakai eye shadow walaupun bahannya tidak terlalu bagus kualitasnya.


Narasumber:
Rd. Widawati Noerlesmana kartadikusumah
Pihak Museum Keraton Sumedang

Sumber foto:
Dokumentasi UJIKOM jurusan seni tari SMK Pangeran Aria Soeria Atmadja Sumedang

TEREBANGAN DARI SUMEDANG


SENI TEREBANG SUMEDANG

Penulis:

Muhammad Aprilian
NIM: 18123007
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan



gambar 1 (terbang buhun dalam buku MUSIC IN JAVA karya .KUNTSS)


Terebangan adalah salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Barat, disajikan atau di pertunjukan sebagai media dakwah, ritual keagamaan, dan  hiburan. Di Jawa Barat Terebangan saat ini masing-masing daerah alhamdulillah sudah melestarikan atau sudah memiliki kesenian Terebangan, meski tidak seperti Terebangan Buhun yang asli seperti waktu dulu. Yang sekarang menjadi terkenal adalah Terebangan Kolaborasi yaitu terdapat dari daerah  Sumedang, Soreang, Majalaya, dan lain-lain. Dari daerah tersebut Terebangan mempunyai ciri khas masing-masing dan alat-alatnya pun bertambah. Dari beberapa narasumber yang telah saya datangi diantaranya Dosen ISBI BANDUNG Bapak Saryoto S. Kar., M. Hum menyatakan bahwa ISBI BANDUNG yang dulunya ASTI atau STSI bersama Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Jawa Barat,  Bandung pernah meneliti Terebangan Buhun dari Sumedang Jawa Barat Indonesia alat yang di pakai di Terebangan Buhun waktu itu diantaranya ada terbang kempring, terbang ageung, terbang gebrung, terbang talingtik, terbang goong, dan kendang. Berdasarkan hasil wawancara kepada salah satu narasumber dari Bandung beliau adalah Dzurriyah Rosul yaitu yang terhormat Habib Muhsin BSA mengatakan bahwa asal mulanya Terebangan itu memang sudah ada pada zaman Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani sekitar tahun 1895 kurang / lebih, namun alat yang digunakan yaitu Terebangan Besar. Terebangan waktu itu di bawa dari daerah Barat yaitu Arab, Yaman, dan dibawa oleh para Wali ke daerah jawa, termasuk di daerah Jawa Barat. Pada saat itu Terebangan di pakai / dipertunjukan sebagai Media Dakwah, Ritual Keagamaan Khusus Agama Islam, diantaranya sebagai puji-pujian, pembacaan sholawat (sholawat Al-Barjanji, Sholawat Simtudduror dan sholawat lainnya). Di pakai di acara ngaruat (mengusir makhluk/jin), di pakai sebagai acara hiburan (Walimatun Nikah, Syukuran, Khitanan dan lain-lain). Kalau di Jawa Tengah dan Jawa Timur Terebangan di sebut Hadroh. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah terkadang Hadroh sering di panggil Terebangan /Terbang atau sebaliknya, namun yang paling sering di sebut oleh masyarakat adalah Hadroh. Perbandingan atau perbedaan antara Terebangan Jawa Barat dan Terebangan Jawa Timur maupun Jawa Tengah,  adalah dari jenis alat dan tabuhan atau pukulan/tepukan. Dan untuk Jawa Barat sendiri memiliki Terebangan Buhun yang tadi sudah sedikit kita bahas. Beraneka ragamnya, serta ciri khasnya yang menjadi sumber kekayaan bangsa ini khususnya di daerah Jawa Barat sehingga Terebangan harus kita jaga,  serta harus kita lestarikan dengan baik dan di dokumentasikan lewat sosial media supaya tidak punah. Terebangan saat ini sering di kolaborasikan bersama Marawis, Gembyung,  Calung, Rebana,  dan lain-lain. Ada beberapa Group Terebangan yang sangat populer saat ini di antaranya ada Al-Hasani, Al-Mansyuriyyah, El-Mathla , dan Majelis Dzikir Al-Furqon. Mungkin nanti kawan-kawan semua bisa lihat videos serta gambar mereka di account mereka, tinggal cari dan masukkan nama-nama groupnya lalu lihat di aplikasi  youtube atau google lalu seperti apa terebangan yang mereka tampilkan.



gambar 2 (TERBANG MODERN)
 Kita bahas Group yang satu ini yaitu El-Mathla Group berasal dari Pondok Pesantren Mathlaunnajah Desa Sukasirna- Jatinunggal - Sumedang - Jawa Barat Indonesia yang mempunyai ciri khas tersendiri membawakan seni pertunjukan nya bahkan disebut unik, mereka membawakan alat musik diantaranya 3 alat Marawis, dan 3 alat Terebangan/Hadroh dan di tambah musik modern yaitu Keyboard . Mereka sering tampil di acara Keagamaan (Puji-pujian, Sholawat Al-Barjanji, Sholawat Simtudduror,  dan sholawat lainnya), sering tampil di acara Maulid Nabi, Rojaban dan acara keagamaan lainnya.  Selain di acara keagamaan mereka sering tampil di acara walimatunnikah, acara syukuran, dan mereka selalu mengikuti festival di daerahnya. Memang kesenian Terebangan ini kebanyakan pada zaman sekarang di kolaborasikan karena supaya lebih banyak para apresiator, dan mengikuti perkembangan zaman. Saat ini masing-masing pesantren khususnya daerah Jawa Barat sudah ada kesenian Terebangan bahkan seluruh Indonesia.
Sekian dan terimakasih. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah satu kata yang kurang dimengerti dan kesalahan dalam penulisan.


Narasumber : Dzurriyah Rosul Habib Muhsin BSA,
Bapak Saryoto S. Kar., M. Hum  , Imapril Official, El-Mathla  Group.

Sumber Photo : 
Buku music Java jilid 2 karya J. KUNTS, 
Muhamad Aprilian,  El-Mathla Group Entertainment.

MEMENIRAN SENI BONEKA RAKSASA DARI CICALENGKA


MEMENIRAN (BADAWANG)


Penulis:

Moch. Restu A.S
NIM 18123007

Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan


gambar 1 (boneka badawang)


Keberadaan memeniran atau badawang dibeberapa tempat di jawa barat sudah berlangsung lama. Seni yang meniru tradisi totemistik agama asli Indonesia ini, menurut Ensiklopedi Sunda, di artikan sebagai orang-orangan bertubuh tinggi-besar terbuat dari kerangka bambu, di beri pakaian, dan diusung oleh seseorang yang berada  di dalamnya sehingga dapat berjalan dan digerak-gerakkan mengikuti irama tetabuhan. Memeniran biasanya ditampilkan dalam iring-iringan (pawai) untuk meramaikan pesta-pesta umum maupun pesta-pesta tradisional keluarga, seperti perkawinan atau khitanan. Di Jakarta, memeniran dinamakan ondel-ondel.

Kapan istilah “memeniran “ muncul tidak diketahui. Namun, apabila dilihat wujud badawang yang tinggi besar, memeniran kemungkinan diambil dari kata menir (meneer = tuan;bahasa Belanda), karena sosok badawang yang digendong berpakaian perlente mirip seorang tuan Belanda. Adapun orang yang menggendong berpakaian sederhana. Kesenian memeniran biasanya ditampilkan sebagai kelengkapan helaran pertunjukan benjang dan arak-arakan lainnya. Dalam perkembangannya, boneka memeniran sering berjumlah leboh dari empat dan variasi kostum boneka yang digendongnya pun bermacam-macam: selain profil beberapa tokoh panakawan seperti Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng juga tokoh-tokoh orang kaya, bangsawan, orang asing, militer, dan lain-lain. Atraksi yang paling menarik dari memeniran adalah orang yang digendong (yang notabene seorang manusia) dapat bergerak bebas, menari, bersorak, bermain kipas, dan sebagainya, sedangkan si penggendong hanya diam saja karena dia hanyalah boneka.

Musik pengiring kesenian ini sama dengan pengiring musik pencak silat, kadang-kadang hanya di tambah dogdog dan bedug saja. Demikian juga lagu-lagu memeniran sama dengan lagu pengiring pencak silat, seperti Golempang, Padungdung, dan lain-lain. Hanya saja, dewasa ini, lagu-lagu kawih dipakai pula, seperti Rayak-rayak, Kembang Bereum, di samping lagu-lagu dangdut yang tengah popular.

Ada beberapa makna yang terkandung dalam kesenian memeniran: makna mistis, karena memeniran merupakan gambaran tradisi totemistik masyarakat agama asli Indonesia, walaupun sudah mengalami perubahan menjadi bentuk-bentuk yang kocak dan lucu, seperti tokoh-tokoh panakawan dan lain-lain;  makna teatrikal, karena tampilan sejumlah memeniran dan badawang lainnya sangat tetrikal, ini disebabkan karena wujudnya yang karikatural dan berukuran jauh lebih besar dari ukuran manusia biasa; makna universal, karena bentuk-bentuk yang mirip memeniran atau badawang terdapat pula pada setiap etnik dan bangsa di dunia.

Adapun menurut Pa Ozon pelaku seni asal cicalengka, Pada awalnya seni badawang muncul di daerah dampit cicalengka sekitar tahun 83, seniman asal dampit tersebut pada mulanya menciptakan Badawang untuk memeriahkan  helaran 17 agustus, atau biasa di sebut arak-arakan.

Mengapa di sebut Badawang? Karena memiliki tubuh  besar dan tinggi, tingginya bisa mencapai hampir 4 meter, lingkaran badan nya kurang lebih 1,5 meter, wajahnya menyerupai buta atau genderewo bertaring panjang berambut injuk, tetapi tidak beraturan, seperti  kepalanya kecil, tangan dan kakinya tidak pas dengan ukuran tubuhnya.

Dalam Bahasa Sunda istilah badawang kadang bersinonim dengan wujud perawakan seseorang yang “tinggi besar”, misalnya awak kawas badawang : jangkung gede teu matut, “Tubuhnya seperti badawang : tinggi besar tapi tidak pas/patut”.

Penulis : Moch. Restu A.S

Sumber  Foto
BUKU DESKRIPSI KESENIAN JAWA BARAT




Narasumber : Pak Ozon. KP.Malingping RT/RW 01/08 DS.Tenjolaya KEC.Cicalengka

SENI MAMAOS DARI CIANJUR


TEMBANG SUNDA CIANJURAN

Ditulis oleh:

Sania Putri Oktaviani
NIM 18123005
Mahasiswi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan


Tembang Sunda Cianjuran merupakan salah satu kesenian khas masyarakat sunda yang berasal dari Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Menurut salah satu tokoh tembang sunda cianjuran yaitu Drs. H. Yus Wiradiredja, istilah tembang sunda cianjuran ini adalah perkembangan dari Seni Mamaos, jadi pada zaman dahulu tembang sunda ini terkenal dengan sebutan Seni Mamaos. Secara Terminologi, tembang sunda merupakan hasil dari seminar pada tahun 1962 oleh para budayawan sunda. Dalam seminar tersebut terdapat diskusi antara para budayawan mengenai nama tembang sunda, yang pada mulanya dikenal dengan Seni Mamaos, namun ditetapkan dengan nama Tembang Sunda, karena menurut mereka, seni Mamaos terdapat di daerah-daerah lain, misalnya seni mamaos Garut, seni mamaos Tasikmalaya, dan yang lainnya. Kemudian ditetapkanlah nama Tembang Sunda Cianjuran.

    
Asal mula lahirnya tembang sunda cianjuran itu lahir pada abad ke-19 tepatnya pada tahun 1840-an, ketika Dalem Pancaniti menjabat sebagai bupati Cianjur yang ke-8. Dalem Pancaniti adalah sosok bupati yang mempuni dalam ilmu pemerintahan, ilmu keagamaan bahkan dalam ilmu kebudayaan. Bahkan sejak kecil, Dalem Pancaniti sudah memiliki kegemaran dalam berbagai kesenian, karena sejak beliau kecil ayahnya sering mengundang berbagai kesenian ke Pendopo Cianjur, misalnya seni pantun, seni degung, wayang golek dan yang lainnya. Hal tersebut membuat Dalem Pancaniti menciptakan Tembang Sunda Cianjuran. Ketika menjabat sebagai bupati Cianjur, Dalem Pancaniti ingin membuat sebuah kesenian baru. Dalam proses menciptakan Tembang Seni Cianjuran, Dalem Pancaniti mengundang beberapa ahli kesenian, diantaranya ahli pantun, ahli degung dan yang lainnya. Hal tersebut yang membuat lahirnya wanda papantunan, wanda dedegungan, wanda jejemplangan, wanda rarancagan dan panambih dalam Tembang Sunda Cianjuran. Jadi lahirnya Tembang Sunda Cianjuran itu adalah hasil dari berbagai genre seni suara yang ada di Cianjur.


Penyebaran Tembang Sunda Cianjuran ke berbagai daerah di Jawa Barat yaitu pada zaman dahulu Cianjur merupakan pusat pemerintahan priangan yang di zaman sekarang pusat pemerintahan Jawa Barat terletak di Kabupaten Bandung. Pada masa periode bupati Wiratanakusuma ke-5, tepatnya ketika beliau menjabat sebagai bupati pada tahun 1910-1920 dan ketika beliau telah selesai menjabat sebagai bupati, beliau pindah ke Bandung dengan membawa perangkat alat degung,dan juga alat-alat kesenian lainnya, bahkan beliau membawa ahli seni yang bernama Raden Ece Majid ke Pendopo Bandung untuk melatih kesenian di lingkungan Pendopo. Ketika Wiratanakusuma menjabat menjadi bupati Bandung, Tembang Sunda Cianjuran sudah mulai dikenalkan ke bupati-bupati lainnya, dengan kata lain Bandung merupakan pusat pengembangan Tembang Sunda Cianjuran.
Sebelum menyebar ke daerah-daerah lain, Tembang Sunda Cianjuran belum menjadi seni pertunjukan, karena kesenian ini hanya ditampilkan di pendopo Cianjur yang hanya disaksikan oleh Para Menak Cianjur. Namun setelah menyebar ke daerah-daerah lain, Tembang Sunda Cianjuran sudah mulai berkembang menjadi seni petunjukan, dimana kesenian ini disaksikan oleh para tamu dan mulai disaksikan oleh masyarakat. Pada tahun 1960-an, Tembang Sunda Cianjuran ini mulai dibuatkan Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran oleh Daya Mahasiswa Sunda (Damas) hingga sekarang.  
Namun sampai saat ini, Tembang Sunda Cianjuran dikenal dengan salah satu kesenian Para Menak atau kesenian elite, dan juga termasuk ke kesenian kalangenan pada masanya, namun setelah berkembangnya zaman, Tembang Sunda Cianjuran ini dapat dikategorikan sebagai hiburan klasik bagi masyarakat.
Waditra yang digunakan dalam kesenian Tembang Sunda Cianjuran ini yaitu, Kacapi Indung, Kacapi Rincik, Suling dan Rebab. Pertunjukan Tembang Sunda Cianjuran di masa sekarang tidak terdapat perubahan yang signifikan, masih ditampilkan dengan gaya yang elegant, klasik, dan berwibawa.


Sumber : Hasil wawancara dengan tokoh Tembang Sunda Cianjuran Drs. H. Yus Wiradiredja.
               ( pada tanggal 26 April 2019 di Ruang Baca ISBI Bandung )
Koleksi Foto : 1. Foto koleksi Deskripsi kesenian Jabar ( Ganjar Kurnia, Arthur s. Nalan )
                      2. Foto koleksi Giant Maeztoso di  TVRI tahun 2017

KUDA LUMPING DESA CITANGTU KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT




Ditulis oleh:




Euis  Karmila
NIM 18123020
Mahasiswi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan


Salah satu  tempat yang masih memelihara  seni pertunjukkan  Kuda Lumping   adalah desa Citangtu, yang merupakan  daerah yang  berada di wilayah  sebelah timur   kabupaten Kuningan. Di desa Citangtu, seni Kuda  Lumping masih  terpelihara  walaupun  frekuensi pementasannya  sangat berkurang  karena jarang  ada yang menanggap.  Hal ini disebabkan  biaya pertunjukkannya cukup  mahal untuk  ukuran daerah  yang umumnya pedesaan, di samping  minat serta  respon masyarakat  terhadap kesenian tradisi sudah tergeser  oleh kesenian-kesenian  yang kurang mendapat  panggilan otomatis  menjadikan  kesenian ini jarang  dipertontonkan  dan sekaligus  kurang  berkembang  karena  tersisih oleh  kebutuhan kehidupan.
Sebenarnya  seni kuda  lumping  adalah kesenian  tradisional yang menarik  untuk ditonton  karena  dirasakan  masih adanya  aura dari dimensi kesadaran dan ketidak sadaran. Pertunjukkan Kuda Lumping ini dari awal sampai akhir ditengarai adanya peristiwa-peristiwa  trance ( kesurupan : Sunda ) dari para pemaénnya  sehingga mampu  melakukan hal-hal yang tidak lazim dalam kehidupan sehari-hari.  Oleh karenanya  dalam penampilan  seni Kuda Lumping  masih  ada pesona-pesoa  dan daya tarik  yang ditunggu-tunggu para penonton, baik anak-anak, remaja  maupun orang tua  berupa makan  pare atau padi,  mengupas  keplapa dengan gigi menginjak  bara api  dan peristiwa  trance lainnya, seperti menirukan suara-suara karuhun  atau nenek moyang/para orang tua  yang sudah meninggal.



Gerakan- gerakan tari dalam seni Kuda Lumping Citangtu merupakan  gerak tidak berpola, karena pamaén Kuda Lumping  bergerak bebas  namun tetap seirama dengan musik  yang ditabuh. Dalam  hal penyajiannya  Kuda Lumping  yang berada  di Desa Citangtu  ini memiliki  keunikan tersendiri , hal ini dikarenakan pengaruh unsure magis  yang lebih  diberikkan oleh sesepuh kepada pamaén dengan maksud  untuk lebih memperkaya unsur pertunjukkannya. Oleh Karena itu  pamaén kuda Lumping  harus dibimbing  oleh beberapa orang pangaping  karena kalau tidak bisa lari kemana saja apabila lepas dari pangapingnya. Jadi disini pangaping harus lebih jeli dan waspada. Disamping itu keunikan lainnya dari pamaékuda lumping  ini  yaitu bisa berdiri tegak  sambil bergerak  diatas punggung pendamping maupun  telapak  kaki  pendamping  yang ditegakkan sambil  terlentang dibawah  atau juga ibu jari  pamaén kuda  lumping yang  dimasukkan ke mulut pendamping.
Pemaén Kuda Lumping ada 3 orang, terdiri  dari 2 orang yang masih muda  dan 1 orang sudah tua, yang merupakan  generasi pendahulu dan belum  ada yang bisa menggantikannya. Seni Kuda Lumping  Citangtu bisa dipertunjukkan atau dipergelarkan di lapangan atau tempat yang luas, karena  disini memerlukan keleluasaan  gerakan pamaén terutama kuda Lumping   yang tidak dibatasi dengan gerakan setempat. Pergelaran  atau pertunjukkan kuda Lumping  biasanya  dalam acara  hajatan atau acara-acara lain.  Ketika dalam acara hajatan biasanya  diengkapi dengan pendukung lain, misalnya  Kuda Renggong, Badut, Bodor,  anak sunat  dan pertunjukkannya hanya  untuk menghibur  kesenian daerah  sendiri,  karena kesenian tradisional merupakan asset budaya bangsa.


Fungsi dari kesenian kuda lumping sendiri selain sarana sebagai hiburan  yaitu sebagai alat komunikasi  karena dapat menyatukan masyarakat dari satu kampug dengan kampong lain. Dengan kata lain kuda lumping mampu  mengumpulkan masa, sehingga banyak warga yang berdatangan hanya ingin menonton pertunjukkan kuda lumping.
Musik yang mengiringi kuda lumping  biasanya genjring, kenong, kendang, tarompet, kecrek  goong, dan dog-dog.


Sumber dan Dokumentasi :
Skripsi  Sumarni (STSI) Bandung  2008, Seni Tradisional Kuda Lumping  Desa Citangtu Kabupaten Kuningan



JANAKA SUNDA, SENI LAWAK SUNDA

JANAKA SUNDA Ditulis oleh: Syalman Andriandani NIM: 18123036 Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, jurusan seni karawit...