Rabu, 15 Mei 2019

TARI JAIPONG, TARI TERPOPULER DI JAWA BARAT

Tari Jaipongan


Ditulis oleh:


Moch. Restu Aprilyyadi Syaputra
NIM 18123012
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia bandung
Jurusan seni karawitan



Gambar 1 (pergelaran tari jaipong)

Salah satu kota di Jawa Barat yang melahirkan beberapa jenis kesenian adalah kota Bandung. Kesenian yang lahir dan berkembang tersebut salah satunya yaitu Tari Jaipongan yang diciptakan oleh Gugum Gumbira. Ketertarikan awal masyarakat terhadap kesenian ini, yaitu pandangan terhadap alunan musik dan kegemulaian penari dan merespon alunan musik jaipongan tersebut.
Jaipongan adalah salah satu jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat serta bersumber dari kesenian rakyat seperti : ketuk tilu, pencak silat, dan topeng banjet. Pada tahun 1980-an tari jaipong berhasil dikembangkan oleh Gugum Gumbira, meskipun pada saat itu sempat muncul dari masyarakat semacam konvrontasi, jaipong dipandang sebagai tarian erotik yang kurang mendidik, karena menunjukan gerak pinggul yang menjadi identik dengan erotik dan sensual. Dalam penyajiannya, jaipong didukung oleh dua unsur seni, yaitu seni tari dan seni karawitan, kedua unsur tersebut saling berkaitan dan saling mendukung dan bersinergi diantara keduanya, sehingga kehadirannya tidak terpisahkan.
Sunarto dalam tesisnya menyebutkan, bahwa : “dalam pertunjukan jaipongan terdapat dua unsur dasar yang keduanya menjadi kesatuan sebagai penanda identitas jaipongan, yaitu unsur tari dan unsur karawitan”.
Pada tahun 1975 kata jaipong sudah populer di daerah kabupaten karawang. Jaipongan sendiri merupakan peniruan bunyi kendang (anomatope), yang biasa dilisankan oleh penari bodor (lawak) pada pertunjukan banjet. Kata jaipong itu memang bukan arti kata suatu bangunan kesenian, tapi dibawakan oleh Ali saban dan Ijem pada lakon teater rakyat topeng banjet, mereka lantunkan untuk meniru bunyi pukulan kendang “blaktingpong” yang dilafalkan menjadi “jaipong”.

Gambar 2 (pergelaran tari jaipong pada hajatan)


Pada tahun 1978 Gugum Gumbira belum memakai istilah jaipongan pada karya-karyanya, melainkan yang berorientasi pada tari ketuk tilu seperti oray welang, kangsreng, geboy, dan sebagainya. Munculnya jaipongan bagi masyarakat Sunda bukan hanya sekedar sebagai tontonan baru melainkan seluruh lapisan masyarakat Sunda dapat terlibat didalamnya menjadi bagian dari pertunjukan jaipongan. Ketika pertunjukan jaipongan berlangsung, selain menjadi penonton, masyarakat luas, baik kalangan anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, laki-laki, maupun perempuan, dapat pula terlibat didalamnya menjadi penari partisipan. Keterlibatan mereka pada dasarnya dikarenakan dalam jaipongan mereka bisa dengan mudah meluapkan ekspresi masing-masing, tanpa aturan yang ketat, dan tanpa harus melalui proses latihan sesuai dengan kebutuhan jaipongan tersebut. Hal itu berbeda dengan jenis-jenis pertunjukan lainnya, misalnya ketika pertunjukan kiliningan, wayang golek, tari keurseus, dan lain sebagainya: masyarakat luas hanya berperan sebagai penonton atau apresiator.
Kelebihan dalam jaipongan adalah warna tepak kendang yang begitu variatif dan dinamis, sehingga merangsang orang yang mendengarkan untuk mengikuti irama kendang.

Sumber :
-Skripsi Karya seni dari Mocmahad Lucky Riyadi (1422282) dalam penyajian Kendang dalam Jaipongan.
-Sunarto : 2009 : 05
-Nalan, 2007 : 3, dalam skripsi Firman Hidayat
Sumber Poto : 
Dokumen pribadi
Restu 

Senin, 13 Mei 2019

SENI TARAWANGSA DARI RANCAKALONG SUMEDANG

TARAWANGSA

Ditulis oleh:

Sania Putri Oktaviani A
NIM 18123005
Mahasiswi institut seni budaya Indonesia Bandung 
Jurusan seni karawitan.


   
Gambar 1 (pertunjukkan tarawangsa pada kegiatan P-kas 11)
Tarawangsa merupakan salah satu kesenian masyarakat sunda yang berasal dari Desa Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat. Kesenian ini berfungsi sebagai ritual, dimana kesenian ini melakukan sebuah upacara penghormatan kepada Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri atau Dewi Padi, ritual ini dilakukan atas dasar rasa syukur atas hasil panen.
   
Dalam Skripsi Teguh Adi Permana (Alumni ISBI Bandung), mengutip pendapat Luki Hendrawan, Tarawangsa merupakan salah satu kesenian yang identitas estetikanya terletak pada unsur musik. Secara Etimologi, Tarawangsa berasal dari tiga gabungan kata yaitu Ta- Ra – Wangsa. Ta merupakan akronim dari kata ‘Meta’ (Sunda) yang artinya pergerakan, Ra berarti api yang agung sama dengan arti Ra dalam bahasa Mesir, analogi api yang agung adalah matahari dan kata Wangsa yang merupakan sinonim dari kata Bangsa, yang berartikan makhluk yang hidup menempati satu wilayah/alam dengan aturan-aturan yang mengikatnya. Jadi, Tarwangsa dapat diartikan sebagai “Kisah Kehidupan Bangsa Matahari”. Dengan kalimat lain, Tarawangsa merupakan kesenian penyambutan atas hasil panen padi yang tumbuhan itu bergantung kepada matahari sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan YME.
Kesenian ini menggunakan dua jenis waditra, yang pertama tarawangsa itu sendiri yang merupakan alat musik yang dibunyikan dengan cara digesek, namun bentuknya berbeda dengan alat musik gesek lainnya seperti rebab. Menurut Ubun Kurabarsah, Tarawangsa di daerah Sumedang disebut Ngekngek. Istilah tersebut diambil dari hasil bunyi alat musik tersebut, yang ketika dimainkan dengan cara digesek menghasilkan bunyi ‘ngeeek’ , jadi Tarawangsa disebut juga dengan sebutan “Ngekngek”.

Gambar 2 (alat musik ék ék)

Tarawangsa merupakan alat musik kordofon yaitu alat music dawai yang sumber bunyinya berupa ruang resonator. Selain tarawangsa, kesenian ini juga menggunakan alat musik kacapi yang dibunyikan dengan cara dipetik, namun kacapi ini juga disebut dengan sebutan jentreng, karena dilihat dari hasil bunyi ketika dimainkan. Berbeda dengan kacapi kawih maupun tembang, jentreng ini memiliki tujuh dawai saja. Hal itu menggambarkan jumlah hari pada satu minggu sebagai penghargaan atas kala bagi para petani dalam menunggu hasil panen. (Dikutip dalam Skripsi Teguh Permana, hasil wawancara Cece).

Gambar 3 (pertunjukkan tarawangsa)

Tidak hanya di Rancakalong, Sumedang, kesenian Tarawangsa ada juga diberbagai daerah di Jawa Barat. Misalnya di daerah Cibalong, Tasikmalaya, di daerah banjaran, Kab. Bandung dan juga di daerah Kanekes, Provinsi Banten. Sampai saat ini, kesenian tarawangsa masih hidup dan berkembang di daerah-daerah tersebut yang berfungsi sebagai upacara ritual.
Efek dari fungsinya sebagai upacra ritual, tarawangsa pun merambah menjadi pertunjukan di luar kepentingannya sebagai media upacara. Seperti yang terjadi di Rancakalong, Sumedang, selain sebagai media upacara ritual atau “Ngalaksa”, tarawangsa juga berfungsi sebagai media hiburan yang ditampilkan dalam acara hajatan maupun dalam perayaan hari-hari besar.


Sumber tulisan : Skripsi Karya Penyajian Teguh Permana yang berjudul “Narawang Mangsa” Intitut Seni Budaya Indonesia Bandung tahun 2015
Sumber Foto : Foto 1 diambil dalam kegiatan P-Kas Februari, 2019.
        Foto 2 diambil oleh Penulis di Museum Sri Baduga Bandung Pada Mei, 2019.
        Foto 3 diambil dalam kegiatan P-Kas Februari, 2019. 

TARI UMBUL DARI KAB. SUMEDANG

TARI UMBUL


Ditulis oleh:

Adi trisampurno
NIM : 18123013
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung 
Jurusan seni karawitan


Gambar 1 (pergelaran tari umbul)

Seni Tari Umbul merupakan bentuk kesenian daerah  Situraja Utara Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Tari umbul merupakan suatu jenis tarian yang dilakukan oleh tua ataupun muda, yang para pelakunya berperan khusus sebagai penari dan nayaga atau disebut pangrawit.
Tarian tersebut dipadukan dengan karawitan sehingga perpaduan tersebut merupakan suatu kesenian yang sudah lama dikenal terutama di daerah Situraja  Utara Kabupaten Sumedang.
Seni Tari Umbul adalah salah satu jenis kesenian rakyat yang dimana tari rakyat itu tidak ada penciptanya. Di dalam karya seni yang sifatnya tradisional, biasanya selalu kesulitan untuk mengetahui siapa yang menjadi penciptanya. Terjadinya hal ini disebabkan karya seni tradisional merupakan karya bersama maka wajar saja seandainya di dalam karya seni tersebut terdapat idiom atau ciri-ciri dari unsur seni tradisional lainnya. Kenyataan bahwa agak sukarnya mencari pencipta sebuah kesenian tradisional menimpa pula pada tari umbul ini meskipun menurut beberapa sesepuh tari umbul di Sumedang mengakatakan,bahwa yang menciptakan tari umbul ini adalah Bapak Sahri dari kampung Babakan Pasantren, Situraja Utara.
Tetapi setelah di telaah ternyata ia hanya mengubah tari umbul tersebut, yang idiom-idiom geraknya berasal dari tari umbul yang ada di Cirebon ketika Pak Sahri menonton tari umbul tersebut.sehingga ia mencoba untuk menyusun kembali gerakan-gerakannya.
Gambar 2 (busana tari umbul)

Tokoh pendukung dengan tumbuh adanya kesenian rakyat yaitu Tari Umbul diawali oleh Bapak Sahri di kampung babakan pasantren desa Situraja Utara Kabupaten Sumedang, yang bertindak sebagai pimpinannya, sedangkan disamping bapak Sahri banyak lagi pendukung lainnya yang terdapat di dalam rombongan ini antara lain yaitu sebagai penari Eruk, Enjum, Eem, Ungki, Ninik (sebagai penari bodor). Sebagai penayaga Endin, Wikanta, Sahri, Memo, Ahya, Santawi, Rasim.
Tari Umbul ternyata adanya keterangan ada bodor tetapi yang di maksud bodor disini merupakan bodor dalam gerakannya.
Pada umumnya hampir seluruh tarian tradisi selalu memakai musik atau karawitan sebagai pengiringnya, begitu pula Tari Umbul. Tari umbul diiringi dengan empat dog-dog yang terdiri dari satu tilingtingtit, satu tong, satu jongjrong, satu jedur atau badublag, dapat ditambah dengan tarompet.
Tari Umbul merupakan kesenian tradisional yang telah memiliki susunan gerak. Adapun gerakan yang terdapat pada Tari umbul ini ialah sembahan, olah bahu, tolak pinggang, rengge sujudan, olah bahu geber atas, olah dada atas, tolak pinggang atas, rengge rukuan, sabetan, tumpangan, oray-orayan. Pola gerak yang ada pada Tari Umbul ini bersifat sederhana, di dalam susunan geraknya merupakan pengulangan dari gerak-gerak khusus.
Tata rias dan busana pada Tari Umbul sangat sederhana diantaranya kacamata hitam, baju kebaya, kain panjang atau samping, dan sampur atau selendang. Sedangkan rias yang dipergunakan Tari Umbul dipergunakan secara sederhana yaitu rias cantik.
Pertunjukan Tari Umbul digunakan sebagai hiburan untuk pawai atau arak-arakan dalam rangka memperingati hari besar  nasional yaitu 17 agustus. Dan sering juga diperlombakan yang iikuti oleh anak-anak maupun remaja dan ibu-ibu. Tari Umbul juga telah masuk dalam Rekor Muri oleh peserta terbanyak untuk memperkenalkan tari tradisional Sumedang kepada generasi muda yang diikuti oleh 3000 lebih penari yang dilaksanakan di Alun-alun Sumedang pada tanggal 20 Mei 2012.



Sumber :
Skripsi tinjauan deskriptif tentang tari umbul oleh Euis Neti Akademi Seni Tari Indonesia 1986

Kamis, 09 Mei 2019

SENI BUROK

KESENIAN BUROK
penulis :
Benny Herdian Hidayat
NIM : 18123017
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan



Gambar 1 (boneka burok)

Burok adalah salah satu seni helaran yang sangat popular di Cirebon. Menurut tuturan para seniman nya (terutama didesa baku samben kec.babakan, kab.cirebon), Burokan muncul sekitar tahun 1934. Seorang penduduk desa kalimaro kec.babakan, bernama Kalil, membuat  suatu kreasi baru seni badawang (boneka-boneka berukuran besar), yaitu kuda terbang burok (dari kata buraq, yang secara tradisional diyakini oleh kaum Muslim sebagai kendaraan yang dipakai oleh Nabi Muhammad SAW ketika Isra’-Mi’raj). Konon, kreasi ini diilhami oleh “cerita rakyat” yang hidup di kalangan masyarakat islam tentang perjalanan Isra’-Mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa terus ke langit tujuh dengan menunggang hewan (mirip kuda) besayap yang disebut burok. Masyarakat Cirebon mengenal sosok burok ini dari lukisan kaca yang pada waktu itu cukup popular dan dimiliki oleh bayak warga masyarakat di Cirebon lukisan kaca tersebut berupa kuda sembrani (bersayap) dengan wajah putri cantik yang putih dan bercahaya. Dengan demikian orang Cirebon tidak merasa asing dengan sosok burok ini. Hasil kreasi Kalil ini kemudian diberi nama “Burok”, sedangkan keseniannya di beri nama Genjring Burok. Dalam perkembangannya genjring burok semakain digemari oleh masyarakat bahkan tersebar keberbagai daerah diluar Cirebon, seperti Losari Brebes, Banjarharja, Karang Suwung, Ciledug, Kuningan, dan Indramayu. Saat ini perkumpulan kesenian burokan yang menonjol adalah Genjring Burok Gita Remaja dari desa Pakusamben pimpinan Mustofa. Perlu dicatat bahwa mustofa bukanlah keturunan Kalil.
Gambar 2 (wajah perempuan dalam boneka burok)

Burokan biasanya di tampilkan dalam berbagai perayaan, seperti hataman, sunatan, perkawinan, marhabaan, dan lain-lain. Pertunjukan dilakukan mulai pagi hari, berkeliling kampung disekitar lokasi perayaan. Selain burok , terdapat boneka lain yang di arak : gajah, macan, dan sebagainya. Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya disediakan sesajen lengkap sebagai  syarat. Kemudian ketua rombongan memeriksa semua perlergkapan pertunjukan sambil membaca doa.
Pertunjukan dimulai dengan tatalu laluburokan bergerak perlahan dengan lantunan  Asroqol (nama lagu ini adalah awal solawat badar bagi Nabi dan Barzanji). Pada saat lagu itu dilantunkan, rombongan pertunjukan masih berjalan di tempat. Setbanyak yang menonton , rombongan baru bergerak. Ketika burokan berjalan, penonton boleh turut serta menari berbaur dengan para pelaku. Dalam acara sunatan, anak sunat dinaikan keatas burok dengan pakaian sunat lengkap. Sedangkan anak-anak lainnya yang ingin naik boneka gajah, macan, kuda, kera, dan lain-lain, di  pungut bayaran antara Rp.500,00-Rp.100,00
Pada saat arak arakan, lagu nyapun berubah (tidak lagi lagu Asroqol ) tetapi  lagu-lagu tarling, dangdut, jaipongan, seperti limangtaun, sego jamblang, jam sijji bengi , sandal barepan, garet bumi, sapayung loroan, kacang asin, tilil kombinasi, bahkan lagu-lagu yang sedang popular, misalnya pemuda idaman, melati, mimpiburuk, goyang dombret dan lain-lain. Sepanjang pertunjukan burokan, karena rupa boneka burok yang cantik dan karena gerakan kaki para pelaku yang lincang mengikuti irama musik, pertunjukan ini menjadi pusat perhatian masyarakat.
Music pengiring burokan biasanya terdiri dari tiga dogdog (besar, sedang , kecil), empat genjring, simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Dalam pertunjukan , alat music tersebut berfingsi sebagai pengiring tarian dan nyanyian. Adapun penyanyinya terdiri dari pria atau wanita. Mereka bernyanyi bersama atau bergiliran tergantung pada karakter  lagu yang dibawakan.
Adapun perlengkapan  pertunjukan burokan terdiri dari sepasang boneka burok yang biasanya dimainkan oleh 4 orang (2 di depan 2 di belakang), beberapa boneka (badawang) berbentuk binatang : gajah, kera, macan, kuda, dan kadang kadang ditambah badut yang memakai kostum lucu.
Makna tersembunyi dibalik pertunjukan burokan antara lain:
  1. Sebagai tanda sukur orang yang menanggap karena burokan dianggap sebagai seni pertunjukan rakyat yang islami.
  2. Makna sinkretis tradisi badawang yang melihatnya (badawang adalah boneka-boneka yang muncul dari cara berpikir mistis totemistik yang berasal dari hubungan arkaistik sebelum islam, yangkini menjadi agama dominan di cirebon)
  3. Makna akulturasi bagi benda yang bernama burok dari kawasan Timur Tengah yang kisah nya terkait dengan Isra’-Mi,raj Nabi Muhamad  SAW
  4. Makna universal, karena sosok hewan seperti burok dapat ditemukan dalam mitos bangsa-bangsa tertentu, misalnya di yunani, terdapat pula mahluk seperti burok, yakni centaur (mahluk berwujud mirip kuda dengan tubuh dari dada sampe kepala berwujud seperti manusia) yang dalam dunia perbinatangan sebagai rasi sagitarius. Di mesir, jenis mahluk yang mirip dengan itu adalah sphinx

Sumber tulisan : 
Buku deskripsi kesenian Jawa barat

Senin, 06 Mei 2019

TARI WAYANG SUMEDANG GAYA RD. ONO

TARI WAYANG GAYA SUMEDANG
KARYA RD. ONO LESMANA KARTADIKUSUMAH

Penulis: 

Nandi Apriansah
NIM: 18123011
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan seni karawitan.


Gambar 1 (tari wayang jakasona)

Pertumbuhan tari di Sumedang sejak hadinya karya-karya Ono sudah menunjukkan suasana demokratis.  Artinya dalam petumbuhannya tidak terfokus pada salah satu jenis tari saja, tetapi beragam seperti Tari Keurseus, Tari Wayang, dan Tari Topeng.  Tari-Tarian itu sama-sama diayomi dan diperkenalkan kepada masyarakat.  Dengan dilatarbelakangi oleh munculnya berbagai jenis tari, para seniman Sumedang salah satunya Ono Lesmana berusaha mngembangkannya melalui pelatihan-pelatihan tari yang diselenggarakan di bawah payung lingkung seni Sekar Pusaka.
  1. Periode 1952 sampai 1987
Pada tahun 1952 karena tahun ini dianggap Tari wayang sudah tercipta. Hal ini terlihat dengan pertanda bahwa saat itu Tari Wayang mulai diajarkan kepada masyarakat.  Sedangkan tahun 197 merupakan periode terakhir dalam kehidupan sejarah berkesenian Ono, karena pada tahun ini beliau wafat.
Murid-murid yang tergabung di dalam periode ini dinilai cukup banyak dan hasil didikannya pun sangat menggembirakan.  Tari Wayang karya Ono mulai lahir pada periode kedua, adapun jenis tariannya sebagai berikut:
  1. Tari Jayengrana
Pada tahun 1942 Ono sudah merancang pembuatan Tari Jayengrana.  Setelah empat tahun (tepatnya tahun 1946) tarian ini baru terwujud secara lengkap. Tari Jayengrana ini mulai diajarkan pada tahun 1952.
  1. Tari Ekalaya
Tari Ekalaya ini diciptakan pada tahun 1954
  1. Tari Adipati Karna
Tari ini disusun pada tahun 1939 ketika Ono sedang menjabat Lurah di Kota Kulon Sumedang, dan mulai dibakukan serta diajarkan pada tahun 1955-an.
  1. Tari Anterja
Tari ini dibuat karena kebutuhan peran pada Wayang Orang dalam cerita Subadra Larung sekitar tahun 1955.  Saat itu pencipta menjabat camat di Tanjungsari Sumedang.
  1. Tari Gatotkaca
Pada tahun 1957 Ono menciptakan Tari Gatotkaca gandrung. Putri Pergiwa dan Pergiwati yang diidamkan Gatotkaca turut divisualkan dalam tarian ini
  1. Tari Yudawiyata
Tarian ini dibuat pada tahun 1957-1958.
  1. Tari Srikandi
Diciptakannya Tari Srikandi, karena adanya kebutuhan peran pada Wayang Wong sekitar tahun 1930-an.  Koreografinya pada waktu itu awalnya menggunakan tari Gawil dan baru pada tahun 1958 ada perbaikan dan pembakuan.
  1. Tari Gambir Anom
Untuk mewujudkan tarian secara utuh dan maksimal, maka pada tahun 1959 Tari Gambir Anom ini ditata lagi dan dibakukan koreografinya.
  1. Tari Jakasona
Tari ini diciptakan pada tahun 1947-1948, untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar di lingkungan seninya.  Namun demikian, tarian ini baru diterapkan kepada peserta kursus pada tahun 1960-an.
  1. Tari Gandamanah
Tari Gandamanah dibuat sekitar tahun 1960-an untuk kepentingan mengajar.
Pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1957 Ono sering dipanggil ke Istana Negara untuk mempertunjukkan karya-karyanya.  Para penari yang sering mengisi dan menyambut tamu dari luar negeri di Istana Negara adalah Emin, Oja Tuti, dan Sukma.  Selain itu, Ono juga pernah mengajar tari di kelompok seni Ekayana yang dipimpin oleh Duyeh di Jakarta atau pada saat itu salah seorang pelatih Ekayana sengaja datang ke Sumedang untuk menyadap tari karya Ono.  Maka dari itu sebagian masyarakat Jakarta ikut terimbas dan menyenangi tari karya Ono dengan jalan ikut mempelajarinya.  Pada zaman keemasannya sekitar tahun 1960-1970 tari-tarian Ono menyebar ke seluruh pelosok Sumedang.  
Gambar 2 (tari karya ono Lesmana)

Kemudian dalam rangka penyebaran dan perkenalan tari hasil karyanya, Ono sering menjadi duta seni dalam berbagai acara.  Dalam acara Muhibah Siliwangi yang diadakan di Yogyakarta pada tahun 1962 disajikan pula Tari Jayengrana.  Selepas itu pada tahun berikutnya yaitu tahun 1970 Ono mengikuti Expo ke Jepang dengan materi Tari Gatotkaca dan Tari Jayengrana, yang dibawakan oleh Elia Marliah dengan kawan-kawan.  Tari Jayengrana yang dibawakan oleh Ina, ikut memeriahkan acara di Vancouver sekitar tahun 1980 bersama-sama dengan kelompok seni tari Indrawati Lukman.
  1. Periode 1987 sampai sekarang.
Setelah Ono Lesmana meninggal dunia pada tahun 1987, Padepokan Sekara Pusaka dipimpin oleh R. Effendi Lesmana, anak kedua Ono yang hingga saat ini masih terus berkiprah dalam melanjutkan jejak langkah sang ayah.  Disamping itu murid-murid Ono seperti Ade Rukasih yang di masa mudanya cukup potensial, akhirnya dipercaya untuk melatih tari karya-karya Ono di Museum Sumedang di bawah naungan Dangiang Kutamaya, dan masih berlangsung hingga saat ini.  Museum sumedang tidak hanya mengoleksi barang-barang antik yang mengandung nilai kesejarahan, namun juga unsur seni, khususnya tari yang pernah berkembang sehingga berbagai lapisan masyarakat Sumedang merasa tidak asing lagi,  dengan tarian Ono.  Setiap hari Minggu gemuruhnya iringan tari selalu terdengar seakan tak pernah berhenti dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun.
Kita perlu berbangga hati Tari Wayang Ono (salah satunya Tari Jayengrana)  telah dibawa oleh seorang keturunan Filipina yang bekerja di Hawai.  Tari tersebut diajarakan di Universitas Hawai oleh Benyamin.  Kemudian Madoka yang berasal dari Jepang antusias dalam mempelajari Tari Jayengrana untuk dijadikan bahan ajar di sana.  Berkat adanya pengakuan dari berbagai pihak tai-tari karya Ono hingga saat ini masih hidup walaupun perkembangannya tidak sepesat dahulu.  
  1. Tari Wayang Sumedang Karya Ono Lesmana.
Tari Wayang Sumedang diproduksi oleh seorang tokoh yaitu Ono Lesmana, sehingga ciri khas individu sangat nampak sekali.  Adapun produk tari wayang dari Sumedang akan dirinci sebagai berikut:
  1. Tari Jakasona berkarakter satria ladak.
  2. Tari Ekalaya berkarakter satria ladak.
  3. Tari Jayengrana berkarakter satria ladak
  4. Tari Adipati Karna berkarakter satria ladak.
  5. Tari Yudawiyata berkarakter satria ladak.
  6. Tari Gambir Anom berkarakter satria ladak.
  7. Tari Srikandi berkarakter putri ladak.
  8. Tari Gatotkaca berkarakter monggawa lungguh.
  9. Tari Antareja berkarakter monggawa lungguh.
  10. Tari Gandamanah berkarakter monggawa dangah.
Gambaran mengenai Tari Wayang Sumedang secara umum, terlihat di bawah ini dan akan dipaparkan lebih rinci berdasarkan bentuknya yaitu:
  1. Tingkatan Karakter
Di Sumedang Tari Wayang berkarakter satria ladak merupakan prosentase terbanyak jika dibandingkan dengan daerah lainnya.  Ciri karakter tersebut menjadi sesuatu yang khas bagi Ono (secara pribadi) dan Sumedang (secara kelompok), adapun rinciaya sebagai berikut: Putri ladak; satu tarian, putra ladak; enam tarian, monggawa lungguh; dua tarian, monggawa dangah; satu tarian.
  1. Bentuk Koreografi
  1. Penyajian
Berdasarkan daftar tarian yang telah dipaparkan diatas, penyajian Tari Wayang Sumedang terbagi menjadi; 1 tarian disajikan dalam bentuk berpasangan yakni Tari Yudawiyata dan 9 tarian lainnya dibawakan dalam bentuk tunggal.
  1. Perang dan non perang
Dengan melihat bentuk penyajian seperti diatas hubung kaitnya dengan bentuk perang dan non perang, maka bila disimpulkan  erolehan jumlahnya akan sama yaitu satu tari perang seperti Tari Yudawiyata dan sembilan lainnya termasuk tari non perang.
  1. Jenis Tarian
Seperti telah diuraikan pada bagian awal, bahwa jenis tarian disini merujuk pada jenis tarian berdasarkan kelamin, sementara jika memperhatikan dari segi nama tarian, sudah barang tentu hanya satu tarian yang berjenis kelamin putri yaitu Tari Srikandi, sisanya yang berjumlah sembilan tarian termasuk jenis putra.
  1. Struktur
  1. Tari Jakasona: berstruktur satu yaitu lagu panglima berpola irama sedang.
  2. Tari Ekalaya:  berstruktur dua yaitu Angle sawilet berpola irama sedang dan Angle dua wilet berpola irama cepat.
  3. Tari Jayengrana: berstruktur satu yaitu Tumenggungan sawilet berpola irama sedang.
  4. Tari Adipati Karna: berstruktur satu yaitu belenderan sawilet berpola irama sedang.
  5. Tari Yudawiyata: berstruktur dua yaitu Tumenggungan sawilet berpola irama sedang Tumenggungan kering berpola irama cepat.
  6. Tari Gambir Anom: berstruktur satu yaitu Udan Mas berpola irama sedang.
  7. Tari Srikandi: berstruktur satu yaitu Gawil Kakacangan berpola irama sedang.
  8. Tari Gatotkaca: berstruktur dua yaitu Macan Ucul sawilet berpola irama sedang, dan Macan Ucul dua wilet berpola irama cepat.
  9. Tari Antareja: berstruktur dua yaitu Tumenggungan gurudugan berpola irama cepat dan Tumeggungan sawilet berpola irama sedang.
  10. Tari Gandamanah: berstruktur dua yaitu Macan Ucul sawilet berpola irama sedang, dan Macan Ucul dua wilet berpola irama cepat.
  1.  Bentuk Koreografi
  1. Bentuk lagu
Lagu yang digunakan untuk mengiringi Tari Wayang Sumedang terdiri dari 10 (sepuluh) tarian, semuanya menggunakan lgu Sekar Alit atau sawilet.
  1. Jenis Iringan
Jenis iringan yang digunakan (semua) adalah gamelan (instrumen) dan kakawen (vokal dalang) tidak dipakai sama sekali.
  1.  Busana
  1. Sumber
Busana Tari Wayang Sumedang berbeda dengan daerah lain karena selain bersumber pada wayang golek ada pula yang bersumber pada beberapa tarian yang dibuat sendiri oleh penciptanya, seperti: Tari Jayengrana, dan Tari Jakasona.
  1. Motif hiasan dan bahan kain
Sumedang merupakan daerah transisi karena jika disebut kampung kebudayaanya sudah seperti kota, dan jika disebut kota belum seutuhnya kota.  Sumedang yang terletak antara Bandung dan Cirebon mendapat pengaruh sangat besar dari kedua kota ini terutama pada perkembangan seni tari.  Hal ini terlihat pada busana tari yang sudah menggunakan hiasan yang kaya dengan warna, begitu juga dengan bahannya yang sudah memakai beludru.
  1. Rias
  1. Sumber rias Tari Wayang di Sumedang mengacu pada tata rias Wayang Golek.
  2. Bahan atau alat untuk rias wajah sudah memakai eye shadow walaupun bahannya tidak terlalu bagus kualitasnya.


Narasumber:
Rd. Widawati Noerlesmana kartadikusumah
Pihak Museum Keraton Sumedang

Sumber foto:
Dokumentasi UJIKOM jurusan seni tari SMK Pangeran Aria Soeria Atmadja Sumedang

TEREBANGAN DARI SUMEDANG


SENI TEREBANG SUMEDANG

Penulis:

Muhammad Aprilian
NIM: 18123007
Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Jurusan Seni Karawitan



gambar 1 (terbang buhun dalam buku MUSIC IN JAVA karya .KUNTSS)


Terebangan adalah salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Barat, disajikan atau di pertunjukan sebagai media dakwah, ritual keagamaan, dan  hiburan. Di Jawa Barat Terebangan saat ini masing-masing daerah alhamdulillah sudah melestarikan atau sudah memiliki kesenian Terebangan, meski tidak seperti Terebangan Buhun yang asli seperti waktu dulu. Yang sekarang menjadi terkenal adalah Terebangan Kolaborasi yaitu terdapat dari daerah  Sumedang, Soreang, Majalaya, dan lain-lain. Dari daerah tersebut Terebangan mempunyai ciri khas masing-masing dan alat-alatnya pun bertambah. Dari beberapa narasumber yang telah saya datangi diantaranya Dosen ISBI BANDUNG Bapak Saryoto S. Kar., M. Hum menyatakan bahwa ISBI BANDUNG yang dulunya ASTI atau STSI bersama Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Jawa Barat,  Bandung pernah meneliti Terebangan Buhun dari Sumedang Jawa Barat Indonesia alat yang di pakai di Terebangan Buhun waktu itu diantaranya ada terbang kempring, terbang ageung, terbang gebrung, terbang talingtik, terbang goong, dan kendang. Berdasarkan hasil wawancara kepada salah satu narasumber dari Bandung beliau adalah Dzurriyah Rosul yaitu yang terhormat Habib Muhsin BSA mengatakan bahwa asal mulanya Terebangan itu memang sudah ada pada zaman Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani atau Syekh Nawawi al-Bantani sekitar tahun 1895 kurang / lebih, namun alat yang digunakan yaitu Terebangan Besar. Terebangan waktu itu di bawa dari daerah Barat yaitu Arab, Yaman, dan dibawa oleh para Wali ke daerah jawa, termasuk di daerah Jawa Barat. Pada saat itu Terebangan di pakai / dipertunjukan sebagai Media Dakwah, Ritual Keagamaan Khusus Agama Islam, diantaranya sebagai puji-pujian, pembacaan sholawat (sholawat Al-Barjanji, Sholawat Simtudduror dan sholawat lainnya). Di pakai di acara ngaruat (mengusir makhluk/jin), di pakai sebagai acara hiburan (Walimatun Nikah, Syukuran, Khitanan dan lain-lain). Kalau di Jawa Tengah dan Jawa Timur Terebangan di sebut Hadroh. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah terkadang Hadroh sering di panggil Terebangan /Terbang atau sebaliknya, namun yang paling sering di sebut oleh masyarakat adalah Hadroh. Perbandingan atau perbedaan antara Terebangan Jawa Barat dan Terebangan Jawa Timur maupun Jawa Tengah,  adalah dari jenis alat dan tabuhan atau pukulan/tepukan. Dan untuk Jawa Barat sendiri memiliki Terebangan Buhun yang tadi sudah sedikit kita bahas. Beraneka ragamnya, serta ciri khasnya yang menjadi sumber kekayaan bangsa ini khususnya di daerah Jawa Barat sehingga Terebangan harus kita jaga,  serta harus kita lestarikan dengan baik dan di dokumentasikan lewat sosial media supaya tidak punah. Terebangan saat ini sering di kolaborasikan bersama Marawis, Gembyung,  Calung, Rebana,  dan lain-lain. Ada beberapa Group Terebangan yang sangat populer saat ini di antaranya ada Al-Hasani, Al-Mansyuriyyah, El-Mathla , dan Majelis Dzikir Al-Furqon. Mungkin nanti kawan-kawan semua bisa lihat videos serta gambar mereka di account mereka, tinggal cari dan masukkan nama-nama groupnya lalu lihat di aplikasi  youtube atau google lalu seperti apa terebangan yang mereka tampilkan.



gambar 2 (TERBANG MODERN)
 Kita bahas Group yang satu ini yaitu El-Mathla Group berasal dari Pondok Pesantren Mathlaunnajah Desa Sukasirna- Jatinunggal - Sumedang - Jawa Barat Indonesia yang mempunyai ciri khas tersendiri membawakan seni pertunjukan nya bahkan disebut unik, mereka membawakan alat musik diantaranya 3 alat Marawis, dan 3 alat Terebangan/Hadroh dan di tambah musik modern yaitu Keyboard . Mereka sering tampil di acara Keagamaan (Puji-pujian, Sholawat Al-Barjanji, Sholawat Simtudduror,  dan sholawat lainnya), sering tampil di acara Maulid Nabi, Rojaban dan acara keagamaan lainnya.  Selain di acara keagamaan mereka sering tampil di acara walimatunnikah, acara syukuran, dan mereka selalu mengikuti festival di daerahnya. Memang kesenian Terebangan ini kebanyakan pada zaman sekarang di kolaborasikan karena supaya lebih banyak para apresiator, dan mengikuti perkembangan zaman. Saat ini masing-masing pesantren khususnya daerah Jawa Barat sudah ada kesenian Terebangan bahkan seluruh Indonesia.
Sekian dan terimakasih. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah satu kata yang kurang dimengerti dan kesalahan dalam penulisan.


Narasumber : Dzurriyah Rosul Habib Muhsin BSA,
Bapak Saryoto S. Kar., M. Hum  , Imapril Official, El-Mathla  Group.

Sumber Photo : 
Buku music Java jilid 2 karya J. KUNTS, 
Muhamad Aprilian,  El-Mathla Group Entertainment.

JANAKA SUNDA, SENI LAWAK SUNDA

JANAKA SUNDA Ditulis oleh: Syalman Andriandani NIM: 18123036 Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, jurusan seni karawit...